Dear Pengasuh Buah Hati,
Menjelang bulan Ramadhan, perasaan saya senang sekaligus susah. Bulan Ramadhana dalah momen berharga di setiap buka dan sahur karena saya merasakan bagaimana kebersamaan dengan suami dan anak semakin erat yang hal ini tidak dapat saya nikmati di bulan-bulan yang lain terlebih ketika saya disibukkan dengan pekerjaan. Sisi lain, saya mulai gelisah juga memikirkan anak saya, ia berumur 5 tahun. Sampai tahun lalu, dia belum bisa berpuasa. Keluhan lapar, dan haus selalu membuatnya gagal menuntaskan puasanya seharian. Saya sangat ingin tahun ini anak saya bisa berpuasa lebih-lebih jika bisa sebulan penuh. Bagaimana penyelesaiannya? Terima kasih sebelumnya.
Iin, Piyungan.
Jawab:
Bu Iin yang sedang bersemangat menyambut Ramadhan, saya memahami mengapa ibu gelisah menghadapi tantangan mengajarkan puasa kepada anak. Orang tua tentunya berharap anak-anak mereka mampu menjalankan ibadah dengan sepenuhnya, dan tentu saja dengan hati riang penuh semangat bukan karena terpaksa.
Obrolan seputar Ramadhan ada baiknya mulai dibangun, seperti merencanakan agenda selama Ramadhan bersama anak. Ajak anak membincang hal-hal apa saja yang dia sukai selama Ramadhan. Ini berguna untuk mengetahui hal-hal yang bisa memotivasi anak untuk tetap bersemangat. Boleh juga membicarakan hal-hal yang kurang menyenangkan selama Ramadhan untuk mencari cara agar kita dapat menghindarkan pengalaman yang kurang menyenangkan tersebut berulang atau mencari cara agar anak tidak focus pada hal-hal yang kurang menyenangkan. Misalnya, anak mengeluhkan rasa lapar dan haus ketika puasa. Maka orang tua dapat merencanakan cara/ teknik yang bisa mengalihkan rasa lapar dan haus.
Anak usia 5-7 tahun bisa dilatih untuk tidak makan dan minum setiap 5-6 jam atau sesuaikan dengan kemampuan anak. Jika anak sudah tidak dapatr menahan lapar, maka izinkan dia berbuka lalu melanjutkan puasa lagi. Tambahkan waktu hingga anak bisa menahan makan dan minum hingga Dhuhur tiba. Jika anak sudah mulai terbiasa dan anak merasa tidak terbebani, maka tambahkan lagi waktunya hingga ashar sampai bisa penuh hingga maghrib.
Membangunkan anak untuk sahur memerlukan kesabaran. Hindari membangunkan dengan cara kasar, dan upayakan membuat suasana sahur semenyenangkan mungkin. Orang tua sebaiknya mengkondisikan suasana rumah agar seramah mungkin terhadap anak missal dengan menyetel music anak-anak atau sambil menikmati acara televisi.
Agar anak tidak banyak melihat stimulasi yang membuat anak ingin makan dan minum sebelum waktunya, sebaiknya makanan dan minuman disimpan/ dilenyapkan dari pandnagan anak. Tetap ingat untuk memberikan motivasi kepada anak dan memberikan pemahaman tentang makna berpuasa. Puasa bagi anak lebih bertujuan pada memperkenalkan puasa dan membiasakan, bukan pada tercapainya target kuantitas (bisa seharian penuh atau sebulan penuh). Harapannya, anak dapat menjalankan puasa tanpa paksaan dan seiring waktu dapat memahami makna berpuasa. Jika anak berhasil tidak makan dan minum seusai yang dia rencanakan, berilah anak penghargaan. Atau anak mampu menahan lapar dan dahaga lebih lama dari hari sebelumnya, maka hargai anak dengan hadiah-hadiah kecil, misalnya pujian, berbuka dengan menu yang ia sukai. Bukanlah nilai hadiah namun yang lebih utama adalah penghargaan akan prestasi agar ia semakin bersemangat untuk senantiasa melakukan yang lebih baik.
Menyiasati perhatian anak selama menjalankan puasa bisa dilakukan dengan mengajak anak melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat anak focus, missal dengan mengajak anak meronce manik-manik. Ini akan melatih motorik halus, konsentrasi, kesabaran, dan kegigihan anak. Proyek-proyek kecil ini akan membuat anak tidak terasa menghabiskan waktu sambil menunggu berbuka. Hal ini sekaligus menantang orang tua untuk menyiapkan menu-menu yang variatif untuk anak. Jika anak sudah bisa dilibatkan dalam pekerjaan rumah, maka orang tua bisa mengajak anak terlibat untuk menyiapkan menu buka puasa. Berilah anak proyek kecil seperti memasukkan kerupuk dalam toples, menyusun kue dalam baki, atau menyusun buah di meja. Anak akan merasa bangga diberi kepercayaan dan tanggung jawab.
Semoga jawaban saya bisa memberi gambaran kepada ibu bagaimana melatih anak untuk berpuasa. Saya yakin dengan kerjasama yang efektif antara ibu dan suami, akan berhasil mendampingi anak meniti ketaatan kepada ajaran agama serta memahami makna kepedulian terhadap masalah social dengan menjalankan puasa. Salam.
* Dimuat di Harian Radar Jogja Minggu, tanggal 8 Agustus 2010


salam kenal, kunjunganblik ditunggu di sini http://ramlannarie.wordpress.com/ dan http://ramlannarie.blogspot.com/