Dear Pengasuh Buah Hati
Pengumuman kelulusan yang belum lama ini telah membuat anak saya sedih karena ternyata ia harus ‘mengulang’. Saya menyadari jika nilai yang diraih anak saya memang masih belum mencapai standar sehingga memang ia belum bisa dikatakan ‘lulus’. Padahal saya melihat sendiri anak saya sudah berusaha belajar rajin untuk mempersiapkan ujian nasional. Ia tidak mengenal lelah belajar terutama pada bagian-bagian yang dirasa sulit dan belum dikuasai. Pada try out-try out sebelumnya, ia selalu bisa mencapai nilai yang melebihi standar kelulusan. Oleh karena itu saya juga sangat kecewa ketika mengetahui jika anak saya tidak lulus, hal ini benar-benar di luar dugaan saya. Saya yakin, anak saya juga tidak siap dengan kondisi ini. Dia terlihat shock dengan hasil yang diperoleh. Sepulang dari sekolah, wajahnya masih memperlihatkan kekecewaan. Apalagi ketika ada yang bertanya tentang hasil, ia terlihat marah karena merasa ada yang tidak adil terhadapnya. Saya ingin membuatnya bersemangat lagi. Bagaimana caranya ya? Dia sudah tidak keluar kamar dua hari ini, pada hari pengumuman ia belum mau makan. Sejak kemarin sudah mau makan meskipun sedikit.
Yanti, Janti
Jawaban:
Ibu Yanti, saya mengerti apa yang ibu rasakan ketika menghadapi anak yang sedang sedih, kecewa, dan marah karena ia harus mengulang dalam Ujian Nasional. Dalam situasi yang butuh semangat untuk tetap maju ujian beberapa waktu mendatang, maka langkah yang bisa dilakukan orang tua adalah membesarkan hati anak. Caranya dapat diawali dengan menyediakan diri sebagai pendengar bagi semua perasaan anak. Peristiwa kemarin bukanlah hal yang kecil bagi anak. Bisa jadi ia merasa putus asa karena baginya lulus ujian adalah prestasi yang dapat ia banggakan dan dapat menghantarkan dia meraih cita-cita. Oleh karenanya bisa kita bayangkan betapa kecewa dan sedihnya ia ketika dinyatakan harus mengulang. Melalui mendengarkan, selain membuat ibu lebih memahami berbagai perasaan yang ia alami proses ini akan membantu anak mengurangi beban psikologisnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses ini adalah belum diperlukan nasehat, sehingga ibu hanya menjadi pendengar aktif yang berempati. Kemudian, ibu bisa mulai merefleksikan perilaku dan tindakannya selama dua hari ini atas kekecewaannya. Upayakan ibu menggunakan kalimat yang menginginkan penjelasan, bukan kalimat penghakiman. Contoh kalimat yang bisa digunakan seperti “…jadi adik merasa sedih, lalu dengan berada di kamar terus apa yang adik rasakan kemudian?” Ketika anak mulai menceritakan pengalamannya selama mengurung diri di kamar, mengisolasi diri, makan tidak teratur, dan tidak peduli dengan kebersihan diri, maka dapat ibu gunakan sebagai pintu masuk mengkonfrontasi perilaku dengan perasaannya. Melalui proses ini diharapkan anak mulai memahami bahwa perilaku-perilakunya sama sekali tidak mendukung dalam mengurangi beban-beban perasaannya. Selain itu bisa juga berguna untuk mengkonfrontasi jika ada pendapat-pendapat anak yang kurang tepat, misalnya anak kadang beranggapan ibu dan bapak akan marah karena ia harus mengulang. Diperlukan pernyataan-pernyataan yang akan membuat anak merasa ia telah mengalami sesuatu yang bisa juga dialami orang lain dan tidak perlu khawatir untuk menghadapinya.
Jika anak mampu melalui tahapan-tahapan tersebut, ajaklah ia menyadari kondisi fisiologisnya lalu segera menindaklanjuti dengan memotivasinya untuk melakukan kebutuhan-kebutuhan primer seperti makan, membersihkan diri, dan istirahat (tidur). Setelah itu, secara fisiologis anak sudah lebih siap diajak berpikir logis seperti mengevaluasi perilakunya pasca membaca pengumuman dan merencanakan langkah selanjutnya. Kemudian, ibu bisa mengajak anak untuk mengkritisi apakah perilaku mengurung diri dan tidak merawat diri akan mengurangi kekecewaannya dan mendukung pada hasil yang lebih baik. Jika langkah ini berhasil, maka ibu sudah hampir sukses membesarkan hati anak tersayang. Anak akan siap diajak untuk merencanakan langkah selanjutnya untuk bersiap menghadapi tes mendatang. Akan lebih baik lagi jika ibu dapat membantunya menyusun rencana agenda sebagai persiapan ujian ulang. Terakhir, yakinkan anak bahwa ia mampu melakukan apa yang sudah ia rencanakan dan harapkan. Dan dukung dia untuk melakukan yang terbaik yang ia mampu lakukan.
Ibu Yanti, upaya ini akan lebih optimal jika dilakukan bersama dengan suami. Perlakuan ini akan membuat anak merasa ia mendapat dukungan untuk berusaha dari lebih banyak orang. Selain itu ia merasa orang tuanya menerima ia apa adanya sehingga tumbuhlah kepercayaan dirinya untuk mengusahakan yang terbaik yang mampu ia lakukan. Demikian bu Yanti, saya yakin ibu mampu melakukannya. Sukses untuk ibu dan putra.
* Dimuat di Harian Radar Jogja Minggu tanggal 13 Juni 2010

