<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>rina widarsih</title>
	<atom:link href="http://nilaungu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nilaungu.wordpress.com</link>
	<description>catatan pengalaman agar semakin cerdas melangkah melalui syukur</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jan 2012 08:00:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nilaungu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>rina widarsih</title>
		<link>http://nilaungu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nilaungu.wordpress.com/osd.xml" title="rina widarsih" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nilaungu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mengurus Syarat Nikah, Mudah kok</title>
		<link>http://nilaungu.wordpress.com/2011/05/10/mengurus-syarat-nikah-mudah-kok/</link>
		<comments>http://nilaungu.wordpress.com/2011/05/10/mengurus-syarat-nikah-mudah-kok/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 09:13:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina widarsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita harian]]></category>
		<category><![CDATA[dampak suntik TT]]></category>
		<category><![CDATA[KUA]]></category>
		<category><![CDATA[syarat nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilaungu.wordpress.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar cerita teman yang mau menikah dalam waktu dekat dan mengalami bebarapa hambatan teknis dalam pengurusan administrasi, membuatku merasa penting untuk membagi pengalamanku dalam pengurusan syarat administrasi untuk mendaftar sebagai calon manten. Karena menurutku pengalamanku mengurus mudah dan lancer, maka aku ingin teman-temanku tahu sehingga tidak perlu khawatir ribet dan memakan waktu lama. Cukup cuti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=231&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengar cerita teman yang mau menikah dalam waktu dekat dan mengalami bebarapa hambatan teknis dalam pengurusan administrasi, membuatku merasa penting untuk membagi pengalamanku dalam pengurusan syarat administrasi untuk mendaftar sebagai calon manten. Karena menurutku pengalamanku mengurus mudah dan lancer, maka aku ingin teman-temanku tahu sehingga tidak perlu khawatir ribet dan memakan waktu lama. Cukup cuti sehari, semua sudah beres. Aku akan menikah insya Alloh tanggal 18 Juni 2011 (masih 39 hari lagi), alhamdulillah semua persyaratan administrasi sudah kami (aku bersama mas Anton) selesaikan tanggal 11 April lalu. Terlalu dini mungkin bagi sebagian orang. Mengapa kami melakukannya? Pertama, kami berpendapat bahwa persiapan hendaknya dimulai dan dibereskan mulai dari yang terkait dengan diri kita sendiri dan yang paling penting, barulah lingkaran diperluas dengan memikirkan mengenai hal-hal yang terkait dengan lebih banyak orang. Kedua, karena kami menganggap penting untuk <em>booking</em> waktu akad, sehingga kami ingin jadwal menikah kami sudah antri di urutan pertama. Harapannya petugas KUA akan mendahulukan jika seandainya ada calon manten yang menggunakan waktu yang bersamaan.<br />
Persiapanku kumulai dengan <em>browsing</em> tentang syarat yang diperlukan untuk mendaftar ke KUA. Melalui website yg kutemukan, aku ketahui jika syaratnya untuk masing-masing calon manten yaitu:<br />
1.	FC KTP 1 lembar<br />
2.	FC Kartu Keluarga 1 lembar<br />
3.	Foto berwarna ukuran 2&#215;3  sebanyak 7 lembar dengan background biru<br />
4.	FC Akta lahir 1 lembar<br />
5.	FC KTP Wali (bagi calon manten perempuan)<br />
6.	FC Ijazah terakhir 1 lembar<br />
7.	Surat Pengantar dari Ketua RT untuk mendaftar pernikahan ke KUA, yang dicap dari RT sampai dengan Kepala Dukuh di tempat calon manten tinggal<br />
8.	Surat Keterangan dari Puskesmas<br />
Setelah kuketahui syarat-syaratnya, maka aku mulai mempersiapkannya. Ini kulakukan sejak 3 bulan sebelum aku menikah. Langkah pertamaku adalah mencari surat pengantar dari RT dan RW. Cap dari pak Dukuh baru bisa diberikan jika aku )sebagai calon manten perempuan) sudah membawa berkas dari calon manten laki-laki. Jika para Ketua RT, RW berada di rumah maka proses ini akan selesai dalam sesore saja. Lalu aku mengafdruk foto. Kebetulan aku sudah punya foto terbaru dengan background biru, sehingga tinggal ku-afdruk saja. Sehari jadi. Selain itu penting untuk mengecek persediaan FC dari beebrapa surat penting yang kusebutkan di atas, jika diperlukan kita harus menggandakan secukupnya, dilebihi jumlahnya juga lebih baik. Tak lupa juga, aku menghubungi mas-ku untuk mempersiapkan syarat administrasi yang harus juga diurus olehnya di tempat tinggalnya. Dia perlu mengurus juga sampai ke Kecamatan lalu disatukan dengan syarat dariku untuk dibawa ke Dukuh. Dalam hal ini, dalam konteks calon manten laki-laki nunut menikah di kediaman calon penganten perempuan.<br />
Oya, baru kuketahui bahwa masa berlaku berkas syarat menikah hanya berlaku selama 100 hari. Sehingga calon manten juga tidak bisa mempersiapkan berkas dan mendaftar terlalu dini karena bisa habis masa berlakunya sebelum hari H. Lalu yang perlu kupersiapkan sejak awal cukup syarat dari nomor 1 – 7, syarat no 8, baru bisa dilakukan setelah mendapatkan pengantar dari Kelurahan.<br />
Untuk keperluan pengurusan mas-ku di domisilinya, aku membekali dengan FC KTP, FC KK, dan FC Wali (Bapak), jumlahnya masing-masing sebanyak 1 lembar. Ketiga lembar ini diperlukan calon manten laki-laki untuk pengurusan administrasi selain syarat dari dirinya pribadi. Setelah pengantar persyaratan di pihak calon manten laki-laki beres, mas Anton menitipkan semua berkas di rumahku agar lebih memudahkan dan antisipasi lupa atau tercecer.<br />
Sampailah saat hari yang kita sepakati untuk mengurus pendaftaran. Berkas-berkas dariku (no. 1 – 7) dan berkas dari mas Anton sudah kusiapkan sejak pagi. Aku ambil cuti sehari. Pagi itu, gerimis sejak subuh. Kalau belum berencana urus ke KUA, aku mungkin akan males keluar rumah hehe. Kami berangkat jam 8.20 dari rumah. Tidak terlalu pagi karena perhitungan Kantor Kelurahan baru buka jam 08.30 dan sering juga lebih siang apalagi kalau gerimis. Waktu berangkat sudah kami perhitungkan karena sebelum ke Kelurahan kami harus ke rumah Pak Kepala Dukuh-ku untuk mendapatkan cap di Surat Pengantar dan mendaftarkan nunut nikah ke Pedukuhan.<br />
Pak Dukuh menyambut kedatangan kami dengan semangat dan langsung mempersilakan kami masuk. Duduk di ruang tamu pendopo rumah beliau yang kadang berfungsi untuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), kami menunggu satu menit sebelum pak Dukuh keluar dengan membawa buku batik. Buku itu rupanya untuk menuliskan data-data mas Anton. Pak Dukuh juga memeriksa kelengkapan berkas kami sebelum dibawa ke kantor Kelurahan. Kira-kira lima belas menit kami di rumah pak Dukuh. Tidak ada biaya administrasi. Perjalanan dilanjutkan ke Kantor Kelurahan. Kami sampai kantor Kelurahan sudah jam 9 kurang dikit. Sudah banyak petugas yang terlihat asyik dengan aktifitas mereka yang tampak tidak terlalu sibuk. Karena aku tidak tahu pasti mana petugas yang melayani pengurusan Surat Pengantar, maka aku langsung masuk di ruangan untuk melayani informasi &amp; bagian pelayanan umum. Berdasarkan petunjuk seorang ibu salah satu staf kelurahan, aku diarahkan ke seorang bapak yang melayani urusan yang kumaksud. Aku serahkan semua berkas kepada beliau. Lalu kami diminta menunggu di kursi tunggu (di luar ruangan). Agak lama kami menunggu di luar, akhirnya kami dipanggil karena sudah selesai. Foto kami ditinggal masing-masing 1 lembar di kelurahan sebagai data. Dari Kelurahan kami dapatkan surat pengantar untuk Periksa Kesehatan di Puskesmas dan Surat penganatar untuk ke KUA. Sebelum pergi, tak lupa membayar biaya administrasi, tarifnya Rp 5.000,- . Prakteknya, kelurahan akan lebih senang jika kita memberi lebih dari lima ribu.<br />
Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10.10. Kami bergegas menuju Puskesmas, yang kebetulan berada di sebelah kantor Kelurahan, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Kami mengejar waktu agar masih bisa mendaftar sebelum tutup pendaftaran yang biasanya berakhir jam 11.00. Ternyata, dari petugas Puskesmas kami baru tahu jika pemeriksaan calon manten hanya dilakukan di Puskesmas Kecamatan (pusat), bukan di Puskesmas tingkat Kelurahan.<br />
Tanpa menunggu lagi, kita langsung menuju Puskesmas Berbah (baca: aku tinggal di Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman). Sudah lewat 5 menit dari pukul 10.30 kami baru sampai Puskesmas. Untunglah Puskesmas masih buka pendaftaran. Mas Anton segera menuju meja pendaftaran agar kami segera dapat mendapatkan layanan. Kami diberi lembar pemeriksaan, lalu diminta menunggu di kursi tunggu.<br />
Kubaca lembar pemeriksaan, ada empat pemeriksaan yang mesti dijalani. Pertama, ada cek lab untuk mengetahui Golongan darah, memeriksa kehamilan, dan Hb. Lalu ada pemeriksaan gigi, bertemu psikolog untuk melakukan konseling, kemudian cek kondisi kesehatan secara umum (poli umum). Pemeriksaan pertama, hanya aku yang dipanggil ke ruang KIA. Setelah dipersilakan duduk dan bertanya data diri (umur, golongan darah), kemudian ibu di depanku bertanya “kapan hari pertama haid terakhir?”. Ada kalimat beliau yang sangat berkesan bagiku, “Nanti setelah cek Hb kembali lagi ke sini ya. Kalau hasilnya bagus nanti langsung saja program hamil karena umurnya sudah cukup, kalau Hb-nya rendah maka saya akan memberikan konseling terlebih dahulu”. Umurku sudah cukup? Aku tersenyum. Ini mungkin adalah ungkapan halus dari “aku sudah telat menikah”. Lalu aku diminta ke ruang laboratorium untuk pengecekan darah dan urine. Oleh petugas Laboratorium, darahku diambil untuk mengetahui kadar Haemoglobin. Kebetulan aku sudah tahu Golongan darahku sehingga tidak dilakukan cek ulang. Kemudian aku diminta menampung urine dan dia membekaliku dengan tabung pendek. Kuserahkan tabung berisi usrine lalu testpack dicelupkan ke dalamnya. Kulihat muncul satu garis di sana. Aku menjadi tahu bagaimana melakukan pengecekan kehamilan menggunakan testpack. Petugas laboratrium lalu menuliskan hasil ke secarik kertas dan memintaku untuk kembali ke ruang KIA. Ibu petugas kesehatan tersenyum membaca hasil laborat yng kubawa, ia membacakan hasilnya, “ini hasilnya bagus. Hb nya bagus, 12. Negative. Jadi langsung program hamil saja, kalaupun mau menunda 3-4 bulan saja”. Aku kembali tersenyum, “aku dan mas Anton sudah menyepakati untuk menjalani satu tahun untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian sehingga memutuskan untuk program hamil di tahun ke-2”. Aku kemudian disuntik TT. Penyuntikan dilakukan di lengan kiri atas. Menurut informasi yang kuperoleh dari temna-temanku, pasca suntik biasanya akan mengalami gejala meriang, demam, dan rasa tidak nyaman di tubuh.<br />
Pemeriksaan setelahnya untuk dilakukan kami berdua, yaitu pemeriksaan gigi, bertemu Psikolog, dan ke Poli Umum. Kurasakan banyak keuntungan ketika kami berdua menjalani pemeriksaan bersama. Satu sama lain menjaid tahu kondisi kesehatan masing-masing sehingga kami saling tahu bagaimana menjaga dan mengatasi jika ada masalah kesehatan di kemudian hari. Setelah semua pemeriksaan kami lakukan, barulah Surat Keterangan mendapatkan tanda tangan dan cap dari Puskesmas. Biaya untuk pemeriksaan waktu itu sebesar Rp 62.500,- Petugas resepsionis masih sempat mengingatkan kepadaku agar kembali lagi bulan depan untuk mendapatkan suntikan TT yang kedua. Suntikan TT diberikan 5 kali, pada bulan ke-0 yaitu suntikan pertama (TT 1), TT 2 diberikan 4 minggu setelah TT 1 untuk kekebalan selama 3 tahun, TT 3 diberikan 6 bulan atau lebih setelah TT 2 untuk kekebalan selama 5 tahun, satu tahun kemudian TT 4 untuk 10 tahun, dan setahun kemudian TT 5 untuk kekebalan selama 25 tahun.<br />
Jam sudah menunjukkan pukul 11.35 menit saat kami menuju KUA. Untungnya jarak tempuh hanya memerlukan 3 menit. Kami langsung memasuki ruangan KUA dan menemui seorang petugas di sana. Berkas langsung kuserahkan dan beliau memeriksa kelengkapan dan ketepatan isinya, termasuk menanyakan kebenaran tanggal lahir Bapakku sebagai Wali, beliau sanksi dengan tahun lahir Waliku yang tercetak 1962 secara umurku sudah 29 tahun saat ini. Rupanya banyak dijumpai oleh beliau salah ketik pada Surat Pengantar dari Kelurahan, terutama pada identitas Wali, mungkin ini terjadi karena petugas hanya menggunakan template berkas sebelumnya. Setelah semua persyaratan administrasi dinyatakan beres, beliau mengeluarkan sebuah buku seukuran seperempat halaman A4. Sampul buku bergambar pengantin dengan pakaian muslim, judulnya Keluarga Sakinah. Beliau lalu membuka-buka lembar dalam buku tersebut sambil memberi tausyiah. Cara penyampaian beliau yang mengalir dibarengi dengan bercerita bagaimana beliau menjalani pernikahannya, membuat tausyah tidak memberi kesan menasehati. Aku cukup senang karena beliau punya perspektif gender sehingga mampu menempatkan posisi perempuan dan laki-laki sesuai peran dan tranggung jawabnya tanpa dicampuri keyakinan-keyakinan yang seringkali bias. Alhamdulillah, aku merasa Alloh sengaja mempertemukan kami dengan beliau, sehingga kami mendapatkan bekal yang amat sangat berharga untuk menjadi bekal bagi kami memulai sebuah ibadah panjang tiada berakhir. Ibadah yang tidak mudah dan sederhana. Ibadah yang tidak hanya membutuhkan keluasan ilmu, melainkan juga memerlukan kerendahan hati untuk menerima masukan, fleksibilitas untuk menyelaraskan berbagai kepetingan, kelapangan waktu untuk berbagi, dan keikhlasan untuk menjaga amanah Alloh atas apa yang Alloh percayakan kepada kita (yaitu pasangan, keluarga pasangan, keturunan).<br />
Biaya administrasi pengurusan berkas di KUA sebesar Rp 210.000,- plus harga buku saku Rp 10.000,- sehingga aku membayarkan sejumlah Rp 220.000. Alhamdulillah, tak sampai jam 13.45 semua proses sudah kami selesaikan. Semua lancar, kami merasa banyak kemudahan, kami merasa banyak terbantu oleh siapapun (semua orang) yang terlibat dalam suksesnya agenda kami hari itu. Dan kami juga yakin, kelancaran hari ini juga didukung oleh persiapan yang sudah kamni lakukan sebelumnya. Kami yakin, teman-teman (pembaca) akan bisa memiliki pengalaman positif dalam mempersiapkan pernikahan jika semua agenda dipersiapkan dengan serius dan cermat. Selamat mempersiapkan pernikahan <br />
Tips:<br />
1. Lembar FC (semua surat-surat penting yang diperlukan) sudah siap sebelum hari yang kita rencanakan untuk mengurus ke KUA<br />
2. Ambil cuti khusus untuk mengurus dari Kelurahan – Puskesmas – KUA, dan pilih antara Senin-Kamis<br />
3. Jika setelah TT terjadi bengkak pada lengan, maka kompreslah dengan air hangat di bagian yang bengkak. Jika demam, maka perbanyak minum air putih.<br />
4. Siapkan uang secukupnya sebelum berangkat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilaungu.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilaungu.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilaungu.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilaungu.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilaungu.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilaungu.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilaungu.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilaungu.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilaungu.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilaungu.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilaungu.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilaungu.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilaungu.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilaungu.wordpress.com/231/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=231&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilaungu.wordpress.com/2011/05/10/mengurus-syarat-nikah-mudah-kok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Last Week in Qoezon City</title>
		<link>http://nilaungu.wordpress.com/2010/11/10/last-week-in-qoezon-city/</link>
		<comments>http://nilaungu.wordpress.com/2010/11/10/last-week-in-qoezon-city/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 07:25:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina widarsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita harian]]></category>
		<category><![CDATA[ICT]]></category>
		<category><![CDATA[Isis]]></category>
		<category><![CDATA[women]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilaungu.wordpress.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Today, we learn how to create page on Twitter, Facebook, and WordPress. This activities in order to do advocacy easier to raise wider people know about our organization or our work in advocacy. This is an opportunity to have a great friends and facilitator in three weeks on Isis International Activist School. Last week on [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=223&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Today, we learn how to create page on Twitter, Facebook, and WordPress. This activities in order to do advocacy easier to raise wider people know about our organization or our work in advocacy. This is an opportunity to have a great friends and facilitator in three weeks on Isis International Activist School. </p>
<p>Last week on this program, I have learn more about drama (theater) and Information Technology and Communication (ICT). And then, we have to make creation or written on our organizational page/websites. In the beginning I feel hard, but now I feel time go faster and faster. I just have three days left with my friends. I will be missing all of them when I have to leave <em>Bahay ni Isis</em> in 13th November 2010. Sometimes I don&#8217;t believe I can involve in Theater Team and create great performance. Our performance tells about adoption a girl. Those story from true story that happen in urban area of China. I&#8217;am be a mother who got violence from husband and society. This is my great and first experience can be involved in theater team with another people from other country. No body else can speak in Bahasa, so we do everything in English. So, I force my self to talk and understand as long as we together, even my English is not so good hehehe. </p>
<p>This is my written after nearly one year I haven&#8217;t add New Post in this blog. I begin to write again! Oh..After this, may be I up date routinely..I hope. Thank you Lea, Anna, Sabrina, and Christine who help us to enjoy and follow the ICT&#8217;s class.  </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilaungu.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilaungu.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilaungu.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilaungu.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilaungu.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilaungu.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilaungu.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilaungu.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilaungu.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilaungu.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilaungu.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilaungu.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilaungu.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilaungu.wordpress.com/223/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=223&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilaungu.wordpress.com/2010/11/10/last-week-in-qoezon-city/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ingin Anak Jalani Puasa</title>
		<link>http://nilaungu.wordpress.com/2010/08/11/ingin-anak-jalani-puasa/</link>
		<comments>http://nilaungu.wordpress.com/2010/08/11/ingin-anak-jalani-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 04:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina widarsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rubrik Buah Hati Kita-Radar Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilaungu.wordpress.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Dear Pengasuh Buah Hati, Menjelang bulan Ramadhan, perasaan saya senang sekaligus susah. Bulan Ramadhana dalah momen berharga di setiap buka dan sahur karena saya merasakan bagaimana kebersamaan dengan suami dan anak semakin erat yang hal ini tidak dapat saya nikmati di bulan-bulan yang lain terlebih ketika saya disibukkan dengan pekerjaan. Sisi lain, saya mulai gelisah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=220&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Pengasuh Buah Hati,<br />
Menjelang bulan Ramadhan, perasaan saya senang sekaligus susah. Bulan Ramadhana dalah momen berharga di setiap buka dan sahur karena saya merasakan bagaimana kebersamaan dengan suami dan anak semakin erat yang hal ini tidak dapat saya nikmati di bulan-bulan yang lain terlebih ketika saya disibukkan dengan pekerjaan. Sisi lain, saya mulai gelisah juga memikirkan anak saya, ia berumur 5 tahun. Sampai tahun lalu, dia belum bisa berpuasa. Keluhan lapar, dan haus selalu membuatnya gagal menuntaskan puasanya seharian. Saya sangat ingin tahun ini anak saya bisa berpuasa lebih-lebih jika bisa sebulan penuh. Bagaimana penyelesaiannya? Terima kasih sebelumnya.<br />
Iin, Piyungan.<br />
Jawab:<br />
Bu Iin yang sedang bersemangat menyambut Ramadhan, saya memahami mengapa ibu gelisah menghadapi tantangan mengajarkan puasa kepada anak. Orang tua tentunya berharap anak-anak mereka mampu menjalankan ibadah dengan sepenuhnya, dan tentu saja dengan hati riang penuh semangat bukan karena terpaksa.<br />
Obrolan seputar Ramadhan ada baiknya mulai dibangun, seperti merencanakan agenda selama Ramadhan bersama anak. Ajak anak membincang hal-hal apa saja yang dia sukai selama Ramadhan. Ini berguna untuk mengetahui hal-hal yang bisa memotivasi anak untuk tetap bersemangat. Boleh juga membicarakan hal-hal yang kurang menyenangkan selama Ramadhan untuk mencari cara agar kita dapat menghindarkan pengalaman yang kurang menyenangkan tersebut berulang atau mencari cara agar anak tidak focus pada hal-hal yang kurang menyenangkan. Misalnya, anak mengeluhkan rasa lapar dan haus ketika puasa. Maka orang tua dapat merencanakan cara/ teknik yang bisa mengalihkan rasa lapar dan haus.<br />
Anak usia 5-7 tahun bisa dilatih untuk tidak makan dan minum setiap 5-6 jam atau sesuaikan dengan kemampuan anak. Jika anak sudah tidak dapatr menahan lapar, maka izinkan dia berbuka lalu melanjutkan puasa lagi. Tambahkan waktu hingga anak bisa menahan makan dan minum hingga Dhuhur tiba. Jika anak sudah mulai terbiasa dan anak merasa tidak terbebani, maka tambahkan lagi waktunya hingga ashar sampai bisa penuh hingga maghrib.<br />
Membangunkan anak untuk sahur memerlukan kesabaran. Hindari membangunkan dengan cara kasar, dan upayakan membuat suasana sahur semenyenangkan mungkin. Orang tua sebaiknya mengkondisikan suasana rumah agar seramah mungkin terhadap anak missal dengan menyetel music anak-anak atau sambil menikmati acara televisi.<br />
Agar anak tidak banyak melihat stimulasi yang membuat anak ingin makan dan minum sebelum waktunya, sebaiknya makanan dan minuman disimpan/ dilenyapkan dari pandnagan anak. Tetap ingat untuk memberikan motivasi kepada anak dan memberikan pemahaman tentang makna berpuasa. Puasa bagi anak lebih bertujuan pada memperkenalkan puasa dan membiasakan, bukan pada tercapainya target kuantitas (bisa seharian penuh atau sebulan penuh). Harapannya, anak dapat menjalankan puasa tanpa paksaan dan seiring waktu dapat memahami makna berpuasa. Jika anak berhasil tidak makan dan minum seusai yang dia rencanakan, berilah anak penghargaan. Atau anak mampu menahan lapar dan dahaga lebih lama dari hari sebelumnya, maka hargai anak dengan hadiah-hadiah kecil, misalnya pujian, berbuka dengan menu yang ia sukai. Bukanlah nilai hadiah namun yang lebih utama adalah penghargaan akan prestasi agar ia semakin bersemangat untuk senantiasa melakukan yang lebih baik.<br />
Menyiasati perhatian anak selama menjalankan puasa bisa dilakukan dengan mengajak anak melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat anak focus, missal dengan mengajak anak meronce manik-manik. Ini akan melatih motorik halus, konsentrasi, kesabaran, dan kegigihan anak. Proyek-proyek kecil ini akan membuat anak tidak terasa menghabiskan waktu sambil menunggu berbuka. Hal ini sekaligus menantang orang tua untuk menyiapkan menu-menu yang variatif untuk anak. Jika anak sudah bisa dilibatkan dalam pekerjaan rumah, maka orang tua bisa mengajak anak terlibat untuk menyiapkan menu buka puasa. Berilah anak proyek kecil seperti memasukkan kerupuk dalam toples, menyusun kue dalam baki, atau menyusun buah di meja. Anak akan merasa bangga diberi kepercayaan dan tanggung jawab.<br />
Semoga jawaban saya bisa memberi gambaran kepada ibu bagaimana melatih anak untuk berpuasa. Saya yakin dengan kerjasama yang efektif antara ibu dan suami, akan berhasil mendampingi anak meniti ketaatan kepada ajaran agama serta memahami makna kepedulian terhadap masalah social dengan menjalankan puasa. Salam.</p>
<p>* Dimuat di Harian Radar Jogja Minggu, tanggal 8 Agustus 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilaungu.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilaungu.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilaungu.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilaungu.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilaungu.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilaungu.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilaungu.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilaungu.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilaungu.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilaungu.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilaungu.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilaungu.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilaungu.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilaungu.wordpress.com/220/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=220&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilaungu.wordpress.com/2010/08/11/ingin-anak-jalani-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Kelulusan</title>
		<link>http://nilaungu.wordpress.com/2010/08/11/menyikapi-kelulusan/</link>
		<comments>http://nilaungu.wordpress.com/2010/08/11/menyikapi-kelulusan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 04:49:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina widarsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rubrik Buah Hati Kita-Radar Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[lulus]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilaungu.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Dear Pengasuh Buah Hati Pengumuman kelulusan yang belum lama ini telah membuat anak saya sedih karena ternyata ia harus ‘mengulang’. Saya menyadari jika nilai yang diraih anak saya memang masih belum mencapai standar sehingga memang ia belum bisa dikatakan ‘lulus’. Padahal saya melihat sendiri anak saya sudah berusaha belajar rajin untuk mempersiapkan ujian nasional. Ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=218&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Pengasuh Buah Hati<br />
Pengumuman kelulusan yang belum lama ini telah membuat anak saya sedih karena ternyata ia harus ‘mengulang’. Saya menyadari jika nilai yang diraih anak saya memang masih belum mencapai standar sehingga memang ia belum bisa dikatakan ‘lulus’. Padahal saya melihat sendiri anak saya sudah berusaha belajar rajin untuk mempersiapkan ujian nasional. Ia tidak mengenal lelah belajar terutama pada bagian-bagian yang dirasa sulit dan belum dikuasai. Pada try out-try out sebelumnya, ia selalu bisa mencapai nilai yang melebihi standar kelulusan. Oleh karena itu saya juga sangat kecewa ketika mengetahui jika anak saya tidak lulus, hal ini benar-benar di luar dugaan saya. Saya yakin, anak saya juga tidak siap dengan kondisi ini. Dia terlihat shock dengan hasil yang diperoleh. Sepulang dari sekolah, wajahnya masih memperlihatkan kekecewaan. Apalagi ketika ada yang bertanya tentang hasil, ia terlihat marah karena merasa ada yang tidak adil terhadapnya. Saya ingin membuatnya bersemangat lagi. Bagaimana caranya ya? Dia sudah tidak keluar kamar dua hari ini, pada hari pengumuman ia belum mau makan. Sejak kemarin sudah mau makan meskipun sedikit.<br />
Yanti, Janti<br />
Jawaban:<br />
Ibu Yanti, saya mengerti apa yang ibu rasakan ketika menghadapi anak yang sedang sedih, kecewa, dan marah karena ia harus mengulang dalam Ujian Nasional. Dalam situasi yang butuh semangat untuk tetap maju ujian beberapa waktu mendatang, maka langkah yang bisa dilakukan orang tua adalah membesarkan hati anak. Caranya dapat diawali dengan menyediakan diri sebagai pendengar bagi semua perasaan anak. Peristiwa kemarin bukanlah hal yang kecil bagi anak. Bisa jadi ia merasa putus asa karena baginya lulus ujian adalah prestasi yang dapat ia banggakan dan dapat menghantarkan dia meraih cita-cita. Oleh karenanya bisa kita bayangkan betapa kecewa dan sedihnya ia ketika dinyatakan harus mengulang. Melalui mendengarkan, selain membuat ibu lebih memahami berbagai perasaan yang ia alami proses ini akan membantu anak mengurangi beban psikologisnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses ini adalah belum diperlukan nasehat, sehingga ibu hanya menjadi pendengar aktif yang berempati. Kemudian, ibu bisa mulai merefleksikan perilaku dan tindakannya selama dua hari ini atas kekecewaannya. Upayakan ibu menggunakan kalimat yang menginginkan penjelasan, bukan kalimat penghakiman. Contoh kalimat yang bisa digunakan seperti “…jadi adik merasa sedih, lalu dengan berada di kamar terus apa yang adik rasakan kemudian?” Ketika anak mulai menceritakan pengalamannya selama mengurung diri di kamar, mengisolasi diri, makan tidak teratur, dan tidak peduli dengan kebersihan diri, maka dapat ibu gunakan sebagai pintu masuk mengkonfrontasi perilaku dengan perasaannya. Melalui proses ini diharapkan anak mulai memahami bahwa perilaku-perilakunya sama sekali tidak mendukung dalam mengurangi beban-beban perasaannya. Selain itu bisa juga berguna untuk mengkonfrontasi jika ada pendapat-pendapat anak yang kurang tepat, misalnya anak kadang beranggapan ibu dan bapak akan marah karena ia harus mengulang. Diperlukan pernyataan-pernyataan yang akan membuat anak merasa ia telah mengalami sesuatu yang bisa juga dialami orang lain dan tidak perlu khawatir untuk menghadapinya.<br />
Jika anak mampu melalui tahapan-tahapan tersebut, ajaklah ia menyadari kondisi fisiologisnya lalu segera menindaklanjuti dengan memotivasinya untuk melakukan kebutuhan-kebutuhan primer seperti makan, membersihkan diri, dan istirahat (tidur). Setelah itu, secara fisiologis anak sudah lebih siap diajak berpikir logis seperti mengevaluasi perilakunya pasca membaca pengumuman dan merencanakan langkah selanjutnya. Kemudian, ibu bisa mengajak anak untuk mengkritisi apakah perilaku mengurung diri dan tidak merawat diri akan mengurangi kekecewaannya dan mendukung pada hasil yang lebih baik. Jika langkah ini berhasil, maka ibu sudah hampir sukses membesarkan hati anak tersayang. Anak akan siap diajak untuk merencanakan langkah selanjutnya untuk bersiap menghadapi tes mendatang. Akan lebih baik lagi jika ibu dapat membantunya menyusun rencana agenda sebagai persiapan ujian ulang. Terakhir, yakinkan anak bahwa ia mampu melakukan apa yang sudah ia rencanakan dan harapkan. Dan dukung dia untuk melakukan yang terbaik yang ia mampu lakukan.<br />
Ibu Yanti, upaya ini akan lebih optimal jika dilakukan bersama dengan suami. Perlakuan ini akan membuat anak merasa ia mendapat dukungan untuk berusaha dari lebih banyak orang. Selain itu ia merasa orang tuanya menerima ia apa adanya sehingga tumbuhlah kepercayaan dirinya untuk mengusahakan yang terbaik yang mampu ia lakukan. Demikian bu Yanti, saya yakin ibu mampu melakukannya. Sukses untuk ibu dan putra.</p>
<p>* Dimuat di Harian Radar Jogja Minggu tanggal 13 Juni 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilaungu.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilaungu.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilaungu.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilaungu.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilaungu.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilaungu.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilaungu.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilaungu.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilaungu.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilaungu.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilaungu.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilaungu.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilaungu.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilaungu.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=218&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilaungu.wordpress.com/2010/08/11/menyikapi-kelulusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Marah di Depan Anak</title>
		<link>http://nilaungu.wordpress.com/2010/02/22/marah-di-depan-anak/</link>
		<comments>http://nilaungu.wordpress.com/2010/02/22/marah-di-depan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 07:45:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina widarsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Rubrik Buah Hati Kita-Radar Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilaungu.wordpress.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Dear Rifka Annisa, Saya ibu dari seorang anak yang genap berusia 2 tahun. Dulu ia adalah anak yang ceria, cepat memahami stimulasi lingkungan, ekspresif dengan perasaannya, serta mudah diberi pengertian. Saya dan suami senantiasa berusaha memberikan yang terbaik untuknya, seperti memilih mainan edukatif, membelikan buku cerita anak, dan memperhatikan makanan baginya agar penuh gizi serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=212&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Rifka Annisa,<br />
Saya ibu dari seorang anak yang genap berusia 2 tahun. Dulu ia adalah anak yang ceria, cepat memahami stimulasi lingkungan, ekspresif dengan perasaannya, serta mudah diberi pengertian. Saya dan suami senantiasa berusaha memberikan yang terbaik untuknya, seperti memilih mainan edukatif, membelikan buku cerita anak, dan memperhatikan makanan baginya agar penuh gizi serta nutrisi, karena kami ingin ia tumbuh optimal menjadi anak yang berprestasi. Bagus, demikian kami memanggilnya, juga termasuk anak yang mudah beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan. Jika ada orang yang baru dikenal, ia bisa menjawab pertanyaan seputar identitas dirinya tanpa rasa malu dan takut. Namun, beberapa minggu belakangan, saya mengamati perubahan pada Bagus. Ia menjadi lebih mudah menangis dan rewel. Saya semakin merasakan kesulitan menghadapi sikapnya yang selalu ingin dituruti semua keinginannya, mudah ngambek, dan menangis, dan sekarang sulit makan. Kami mulai bingung bagaimana cara menghadapi anak kami. </p>
<p>Komunikasi saya dan suami akhir-akhir ini saya rasakan kurang baik. Suami sering mengajak saya bertengkar di epan anak, meski sering saya ingatkan untuk membicarakan permasalahan dengan baik-baik di dalam kamar, tapi dia selalu mengabaikan karena menganggap Bagus belum mengerti. ”Seandainya tahu pun ia juga akan lupa, kan masih kecil”, begitu kata suami. </p>
<p>Apakah relasi saya dengan suami mempengaruhi perilaku Bagus? Saya ingin tahu bagaimana agar Bagus bisa kembali seperti dulu? Terima kasih atas jawabannya.<br />
Santi, Ngawen</p>
<p>Jawab:<br />
Terima kasih bu Santi atas suratnya. Pasti bahagia ya memiliki buah hati yang ceria, responsif, cerdas, dan percaya diri. Saya yakin ibu sudah mempersiapkan yang terbaik untuk Bagus, serta mampu membesarkan anak dengan sebaik-baik perlakuan. Tentu saja hal ini akan lebih baik jika dilakukan bersama suami, artinya ada kerjasama dan kekompakan dalam membesarkan serta mendidik anak.</p>
<p>Usia tiga tahun termasuk dalam golden ages yang mana menjadi momen penting untuk pengoptimalan tumbuh kembang otak anak melalui stimulasi dari lingkungan sekitar. Jika pada tahap ini anak diberi berbagai rangsangan positif, maka akan semakin banyak koneksi antar sel otak yang membuat semakin cepatnya proses pemahaman terhadap sesuatu. Oleh karenanya menjadi hal yang sangat mungkin jika pada usia dini ada anak yang bisa menghafal ratusan negara beserta bendera dan letaknya dalam peta dunia karena ia terus dilatih oleh orang tuanya tentang pengetahuan tersebut. Demikian juga jika anak mendapatkan input negatif, maka ia juga mampu merekam dengan sangat baik, seperti pengalaman buruk termasuk pertengakaran orang tuanya. Ingatan anak akan berpengruh terhadap kondisi emosional dan sosialnya. Termasuk jika anak melihat orang tuanya saling berselisih dan bicara keras, apalagi jika ada kekerasan fisik kepada pasangan. Mengapa hal ini mempengaruhi anak? Orang tua bagi anak adalah sesuatu yang bisa menciptakan rasa aman, terlindungi, dan nyaman. Pelukan, usapan, ucapan lembut menjadi bentuk aktivitas yang memberi kontribusi terciptanya perasaan aman pada anak. Bagus, belajar memperoleh rasa aman dari ibu dan ayahnya sehingga ia memiliki penerimaan pada diri. Penerimaan diri menajdi modal utama untuk percaya diri, mudah beradaptasi, dan toleran terhadap situasi lingkungan yang tidak sesuai dengan harapan (fleksibel). Sikap-sikap ini sudah mulai terlihat pada Bagus. Namun ia segera berubah karena melihat orang tuanya tidak lagi menunjukkan relasi yang baik-baik saja, dalam pengertian anak seusia Bagus. Selama ini anak memahami bahwa orang tuanya mampu memberikan rasa aman karena tidak pernah ada peristiwa yang membuat mereka saling berselisih lalu nampak seperti musuh satu sama lain. Jika hal ini terjadi maka bisa kita prediksikan anak akan merasa tidak nyaman, cemas, takut dan stres. Tentu saja ini berpengaruh pada cara dia merespon lingkungan, misalnya menjadi lebih sulit diberi pengertian sehingga orang tua merasa anak menjadi lebih sulit diatur. Jika kondisi ini berlangsung beberapa waktu, hingga bulanan bahkan sampai menahun, maka dmapak yang lebih buruk akan terjadi. </p>
<p>Hal yang penting juga adalah membicarakan dengan suami mengenai kondisi anak. Ajak suami untuk mencermati perubahan perilaku anak dan mengevaluasi kembali pola komunikasi yang selama ini dilakukan termasuk pengaruhnya terhadap anak. Momen ini juga akan bermanfaat bagi ibu Santi dan suami untuk berlatih membiasakan melakukan pola komunikasi yang sehat dengan pasangan. Ibu juga bisa melihat bagaimana pandangan suami terhadap tumbuh kembang anak dan pendidikan bagi anak. Sebaiknya, ibu dan suami tidak bosan untuk mempelajari keterampilan memecahkan masalah dan ‘bertengkar secara sehat’, agar ibu dan suami dapat menemukan jawaban dari setiap persoalan atau perbedaan pendapat yang muncul tanpa harus saling menyakiti dengan kata-kata kasar yang sekaligus bisa melukai jiwa si kecil yang turut menjadi penonton/ pendengar.</p>
<p>Demikian ibu Santi, semoga ibu dan suami semakin mahir sebagai orang tua yang senantiasa bertumbuh karena tantangan-tantangan yang dihadapi dalam mendidik anak.<br />
Salam hangat, redaksi Buah Hati</p>
<p><em>Dimuat di Radar Jogja tanggal 7 Februari 2010, Kolom Buah Hati Kita </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilaungu.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilaungu.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilaungu.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilaungu.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilaungu.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilaungu.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilaungu.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilaungu.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilaungu.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilaungu.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilaungu.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilaungu.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilaungu.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilaungu.wordpress.com/212/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=212&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilaungu.wordpress.com/2010/02/22/marah-di-depan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mp3Raid music code</title>
		<link>http://nilaungu.wordpress.com/2009/11/28/mp3raid-music-code/</link>
		<comments>http://nilaungu.wordpress.com/2009/11/28/mp3raid-music-code/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 05:56:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina widarsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilaungu.wordpress.com/2009/11/28/mp3raid-music-code/</guid>
		<description><![CDATA[meraih mimpi gita mp3 &#124; lyrics free music downloads &#124; music videos &#124; pictures<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=209&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="visibility:hidden;width:0;height:0;" border="0" width="0" height="0" src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTI1OTM4NzY4NjY3MSZwdD*xMjU5Mzg3ODE*ODY3JnA9NTM1NDEmZD1tcDNyYWlkJm49d29yZHByZXNzJmc9MSZvPTgxZDc2MmIyZWQyODRlMTQ5ZTM4YTY2ZTZkZjJkNTM4.gif" />
<div style="width:320px;text-align:center;background-color:dedede;font:normal 11px tahoma;height:16px;"><a href="http://www.wiredseek.com/ringtones/?id=wmp" target="_blank"><img src="http://images.mp3raid.com/ring.gif" style="border:0;float:right;margin-left:1px;" /></a><a href="http://www.mp3raid.com/music/meraih_mimpi_gita.html" target="_blank" style="color:#3F4369;">meraih mimpi gita mp3</a> | <a href="http://www.elyrics.net" target="_blank" style="color:#3F4369;">lyrics</a></div>
<p><iframe frameborder="0" width="328" height="38" src="http://wpcomwidgets.com/?width=320&amp;height=30&amp;src=http%3A%2F%2Fimages.mp3raid.com%2Fi%2Fmp3player.swf&amp;quality=high&amp;flashvars=config%3Dhttp%3A%2F%2Fimages.mp3raid.com%2Fvarext.php%26file%3Dhttp%253A%252F%252Fwww.4shared.com%252Fdownload%252F107288712%252F4c6f0e10%252FGita_Gutawa_-_Harmoni_Cinta_-_05_Meraih_Mimpi.mp3%253Fv%253D1&amp;wmode=tranparent&amp;_tag=gigya&amp;_hash=f4b047878075ccbe0f1b29e69daecc36" id="f4b047878075ccbe0f1b29e69daecc36"></iframe>
<div style="width:320px;text-align:center;"><font><a href="http://www.mp3raid.com" target="_blank">free music downloads</a> | <a href="http://www.videocure.com" target="_blank">music videos</a> | <a href="http://www.singerpictures.com" target="_blank">pictures</a></font></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilaungu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilaungu.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilaungu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilaungu.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilaungu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilaungu.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilaungu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilaungu.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilaungu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilaungu.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilaungu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilaungu.wordpress.com/209/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilaungu.wordpress.com/209/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilaungu.wordpress.com/209/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=209&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilaungu.wordpress.com/2009/11/28/mp3raid-music-code/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rina</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTI1OTM4NzY4NjY3MSZwdD*xMjU5Mzg3ODE*ODY3JnA9NTM1NDEmZD1tcDNyYWlkJm49d29yZHByZXNzJmc9MSZvPTgxZDc2MmIyZWQyODRlMTQ5ZTM4YTY2ZTZkZjJkNTM4.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://images.mp3raid.com/ring.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pesan untuk Pengantin</title>
		<link>http://nilaungu.wordpress.com/2009/10/05/pesan-untuk-pengantin/</link>
		<comments>http://nilaungu.wordpress.com/2009/10/05/pesan-untuk-pengantin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 10:20:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina widarsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita harian]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[pengantin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilaungu.wordpress.com/2009/10/05/pesan-untuk-pengantin/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin, aku menghadiri walimahan teman yang mana dulu kita sempat menjadi teman kerja di kampus. Melalui perkenalan singkat 3 bulan, akhirnya ia memutuskan untuk menerima pinangan laki-laki yang direkomendasikan seseorang yang dipercaya. Acara diselenggarakan dengan sederhana namun tak mengurangi nuansa kebahagiaan dan syukur. Souvenir mungil diserahkan oleh si mbak yang berada di belakang meja buku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=206&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin, aku menghadiri walimahan teman yang mana dulu kita sempat menjadi teman kerja di kampus. Melalui perkenalan singkat 3 bulan, akhirnya ia memutuskan untuk menerima pinangan laki-laki yang direkomendasikan seseorang yang dipercaya. Acara diselenggarakan dengan sederhana namun tak mengurangi nuansa kebahagiaan dan syukur. Souvenir mungil diserahkan oleh si mbak yang berada di belakang meja buku tamu. Sepintas, aku melihat souvenir terbuat dari kain flannel berbentuk persegi berukuran mungil. Aku tidak tertarik untuk menelitinya lebih jauh ketika menerima, apalagi aku langsung larut dengan kegembiraan karena bisa mengucapkan selamat langsung kepada pengantin perempuan. Saat acara berlangsungpun, aku memanfaatkan hampir seluruh waktu untuk bertukar cerita dengan teman lama, sesama asisten di kampus dulu. Seperti biasa, jika menghadiri acara serupa, terasa sebagai reuni karena kita akan bertemu teman yang lama sudah tidak jumpa. Hingga acara berakhir dan aku pulang, aku belum menyempatkan membuka apa sesungguhnya souvenir dari Astuti.</p>
<p>Sampai di rumah, segera kukeluarkan seluruh isi tas untuk membersihkannya sebelum kusimpan kembali. Kutemukan sebentuk kain flannel kuning yang dibungkus pklastik bening. Tepian flannel dijahit dengan benang warna senada lalu diberi tali hitam. Pastilah handmade, diam-diam aku mengagumi ketelatenan Astuti yang mengejarkan semua souvenir untuk tamu-tamunya. Kuamati kembali, apa maksudnya ya. Emm..ya, mirip tas kecil, dan…wah ada isi di dalamnya. Secarik kertas kuambil dari sana, terlipat 4 kali dengan model wiru yang menghasilkan 5 part sehingga jika ditarik akan nampak jika kertas tersebut cukup panjang. Sebait tulisan yang pelan-pelan kubaca, berusaha kupahami artinya. Rupanya bait-bait tersebut berisi beberapa hadits, doa dan petikan ayat Al Quran. Salah satu hadits yang menarik yaitu,</p>
<p>&#8220;Takutlah engkau kepada Alloh SWT dalam urusan wanita. Sesungguhnya mereka adalah amanat di sisimu. Barang siapa tidak memerintahkan sholat dan mengajarkan sholat kepada istrinya, berarti ia berkhianat kepada Alloh SWT dan Rasul-Nya.&#8221;</p>
<p>Tertegun ketika selesai kubaca hadits yang ditulis pada urutan pertama pada secarik kertas tersebut. &#8220;Indah sekali&#8221;, kataku dalam hati. Kira-kira ada berapa suami (atau laki-laki) yang mengetahui dan memahami hadits ini ya, tanyaku kemudian. Ada beberapa poin yang ingin disampikan hadits ini sejauh pemahamanku (karena aku belum melihat lagi perawi serta asal usul bagaimana hadits ini muncul). Diantaranya adalah aspek perasaan berserah dalam kerendahan hati, edukasi dan tanggung jawab. Lalu pertanyaan berikutnya yang muncul adalah bagaimana jika Sang Suami belum memiliki cukup pengetahuan agama dibanding Sang Istri, misalnya suami adalah seorang mualaf lalu bagaimana hadits ini menjelaskannya ya?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilaungu.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilaungu.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilaungu.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilaungu.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilaungu.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilaungu.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilaungu.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilaungu.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilaungu.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilaungu.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilaungu.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilaungu.wordpress.com/206/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilaungu.wordpress.com/206/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilaungu.wordpress.com/206/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=206&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilaungu.wordpress.com/2009/10/05/pesan-untuk-pengantin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Jadi TKW</title>
		<link>http://nilaungu.wordpress.com/2009/09/15/aku-jadi-tkw/</link>
		<comments>http://nilaungu.wordpress.com/2009/09/15/aku-jadi-tkw/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 01:21:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina widarsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita harian]]></category>
		<category><![CDATA[penduduk lokal]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilaungu.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Kapal baru saja melabuh. Aku tak segera beranjak menggendhong ransel berat dan merangsek maju. Aku masih malas berdesakan, kubiarkan hampir seluruh penumpang maju menuju jalan keluar berlomba lebih dulu. Aku keluar kapal di urutan ketiga dari belakang. Sedikit nampak kerepotan membawa bawaan, aku tetap berusaha membawanya sendirian toh salah satu tas bisa kutarik. Penumpang lain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=193&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kapal baru saja melabuh. Aku tak segera beranjak <em>menggendhong </em>ransel berat dan merangsek maju. Aku masih malas berdesakan, kubiarkan hampir seluruh penumpang maju menuju jalan keluar berlomba lebih dulu. Aku keluar kapal di urutan ketiga dari belakang.</p>
<p>Sedikit nampak kerepotan membawa bawaan, aku tetap berusaha membawanya sendirian toh salah satu tas bisa kutarik. Penumpang lain dari Tanjung Balai Karimun yang bersamaku dalam satu kapal membimbingku untuk berjalan melalui arah tertentu tanpa membuatku berpikir keras membaca tanda-tanda. Sampailah aku di ruangan lebar yang dari situ kita sudah dapat melihat banyaknya sopir TAXI yang berebut penumpang. Namun tak kulihat satupun yang mencoba masuk ke ruangan ini. Biasanya kulihat mereka proaktif menjemput penumpang, namun kali ini mengapa tidak. Mataku masih mencari laki-laki dengan tinggi badan sedang, agak botak dan biasanya nampak tersenyum dikulum. Dimanakah beliau, mengapa tak juga kutemukan? Kepergianku lalu, ia sudah menjemputku di dalam ruangan ini, sehingga aku tidak lagi kebingungan mencari. Tapi kali ini belum juga kulihat tanda-tanda kemiripan sekalipun dengan dirinya. Padahal, tadi di perjalanan sudah ku-sms untuk memintanya menjemputku di pelabuhan pada jam yang sudah kuperhitungkan.</p>
<p>Aku dari Balai, semua penumpang di pintu keluar pelabuhan ditanyain KTP. Trus, karena mesti nurunin tas punggung yg berat, petugas jadi nunggu. Aku keluarin KTP smapai pasport. Ketauan bukan orang Kep Riau. So, aku diminta ke bagian pendataan (Disduk) dan dimintai keterangan untuk keperluan apa datang ke Balai dan ke Batam. Kemana tujuanku juga. Ketika kusampaikan bahwa aku ada keperluan tugas dari kantor, justru kemudian aku ditanya surat tugas. alamat tujuan di Batam, bahkan surat tugas. Pyuh pyuh&#8230;baru kali ini ada pengawasan ketat setelah aku bolak-balik antar pulau beberapa kali. Aneh, apakah ini efek dari pengeboman yang terjadi di Jakarta 17 Juli kemarin? Ataukah wajahku ini nampak sebagai TKW yang baru pulang dari Malaysia? Kata temenku, wajahku yang sangat &#8216;Jawa&#8217; dengan barang bawaan yang kutenteng membuat orang yang baru melihat, apalagi di Kep Riau yang memang menjadi jalur perlintasan (transit), dengan mudah menilaiku adalah TKW dari kampung. Kalau benar alasan itu berarti aku menjadi TKW dong. Namun meskipun tidak disangka demikian, aku pun sudah menjadi tenaga kerja wanita yang pergi jauh ke Kep Riau dari Jogja. Hahaha&#8230;ya pengalaman unik, yang kata temenku yang berusaha berpikir positif, mungkin petugasnya ingin tahu dan kenal aku lebih dalam sehinga ia memintaku lebih lama bersamanya. Apapun alasannya, yang pasti aku pernah merasakan ditanyai detail oleh Perdaduk. Aku harus menunjukkan KTP, lalu petugas akan menuliskan identitasku serta keperluanku datang ke Batam ke selembar kertas yang merupakan surat keterangan bukan penduduk Batam.</p>
<p>Keluar pelabuhan, aku masih merasa aneh hingga kuceritakan pengalamanku pada driver langgananku. Menurut beliau, mungkin karena aku terlihat bingung. Aku justru bingung, kapan ya aku merasa bingung. Aku coba mengingat. Aku tadi memang sempat mencari-cari keberadaan pak Tion di pelabuhan yang sudah kuminta jemput. Mungkin saat mataku mencari-cari itulah, petugas sekitar memahaminya bahwa aku orang yang baru saja datang ke Kep Riau, so aku harus diketahui dengan pasti identias serta tujuannya. Jadi pelajaran yang kuperoleh adalah sebaiknya tunjukkan sikap santai dan terlihat menguasai medan ketika kita datang ke tempat baru. Jika kita merasa bingung, langsung tanyakan kepada petugas resmi tanpa menunjukkan melalui ekspresi wajah sehingga bisa terlihat oleh orang lain.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilaungu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilaungu.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilaungu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilaungu.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilaungu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilaungu.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilaungu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilaungu.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilaungu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilaungu.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilaungu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilaungu.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilaungu.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilaungu.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=193&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilaungu.wordpress.com/2009/09/15/aku-jadi-tkw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menuju Senja di Camp Vietnam</title>
		<link>http://nilaungu.wordpress.com/2009/07/22/menuju-senja-di-camp-vietnam/</link>
		<comments>http://nilaungu.wordpress.com/2009/07/22/menuju-senja-di-camp-vietnam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 01:07:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina widarsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita harian]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilaungu.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Kira-kira setengah dua siang kami (aku dan pak Tion) memacu Pinki TAXI ke arah Barelang. Barelang adalah jembatan yang menghubungkan antara Pulau Batam dengan pulau lain yang masih termasuk wilayah Batam. Tujuan akhir kami adalah Camp Vietnam yang berada di hampir ujung jembatan. Untuk bisa sampai ke sana, kami akan melewati sekitar 4 jembatan penghubung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=194&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kira-kira setengah dua siang kami (aku dan pak Tion) memacu Pinki TAXI ke arah Barelang. Barelang adalah jembatan yang menghubungkan antara Pulau Batam dengan pulau lain yang masih termasuk wilayah Batam. Tujuan akhir kami adalah Camp Vietnam yang berada di hampir ujung jembatan. Untuk bisa sampai ke sana, kami akan melewati sekitar 4 jembatan penghubung antar pulau.</p>
<p>Menuju Batu Aji, perumahan mulai sedikit dan batuan lebih dominan terlihat. Semakin jarang masyarakat yang tinggal jauh dari kota. Lalu kami sampai di jembatan penghubung yang menjadi icon kota Batam yaitu biasa disebut jembatan Barelang. Arsitektur jembatan mengingatkanku dengan jembatan yang berada di atas sungai Chao Praya di Bangkok, terdiri dari batangan-batangan beton yang kokoh yang menyatu di dua puncak, membentuk seperti prisma. Sulur yang simetris dan menyerupai segitiga bertumpuk, nampak indah meski kaku. Laut menghampar di bawah jembatan serta beberapa perahu yang lewat menjadi pemandangan yang tidak melelahkan mata ketika kita berdiri di atas jembatan yang membentang. Cahaya jingga dari matahari senja mempercantik nuansa karena memantul di air.</p>
<p>Untuk sampai di Camp Vietnam, butuh waktu sekitar satu jam perjalanan dari Sekupang. Camp ini dulu ditinggali oleh warga Vietnam yang terdampar sampai ke Indonesia karena mereka lari dari negaranya yang tengah berperang. Ada ratusan warga yang hidup berbulan-bulan dalam perahu  hingga sampai Batam dan kemudian diberi kesempatan pemerintah Indonesia untuk tinggal di wilayah NKRI. Datang tahun 1971, mereka hidup bermasyarakat, berkembang biak, dan menghabiskan sisa hidup di Pulau Galang dan pulau yang lain. Mereka akhirnya diminta pulang oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1996. Kepergian mereka meninggalkan banyak bangunan fisik yang hingga sekarang sebagian masih nampak meski tinggal beberapa dan dalam kondisi yang tidak terawat. Mereka membangun rumah sakit, pusat berkumpulnya muda-mudi berkegiatan, tempat ibadah, dan tempat-tempat lain yang aku sendiri kurang paham apa fungsinya karena bangunan sudah tidak utuh. Karena lamanya mereka berada di Indonesia, maka ada sedikitnya 503 orang yang meninggal di Indonesia dan dimakamkan di dekat gapura pintu masuk wilayah Camp.</p>
<p>Aku sempat singgah di bangunan yang difungsikan sebagai museum oleh pemerintah kota Batam. Bangunan ini berfungsi untuk menyimpan sebagian dari barang-barang peninggalan mereka yang masih tersisa, seperti komputer rusak, motor roda dua tua, alat pertanian. Ada juga hasil karya tangan-tangan terampil mereka yang terpajang di ruang seperti museum tersebut. Selain itu kita juga dapat melihat ratusan foto-foto mereka yang tertempel rapi di salah satu bagian dinding museum.</p>
<p>Kunjungan yang menarik dan membuatku terkesan. Kenapa aku tidak kemari sejak dulu ketika masih di awal programku di Kepulauan Riau. Ketika aku tidak menemukan kebahagiaan melintas di antara kotak-kotak ruangan penuh baju di Mall, tempat bersejarah inilah yang kubutuhkan. HP dengan fasilitas kamera sangat sederhana, cukuplah membantuku mendokumentasikan beberapa tilas fisik. Bagian pulau Galang telah menjadi saksi bisu kenangan bersejarah saudara kita yang sempat singgah hidup di negeri Indonesia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilaungu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilaungu.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilaungu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilaungu.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilaungu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilaungu.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilaungu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilaungu.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilaungu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilaungu.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilaungu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilaungu.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilaungu.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilaungu.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=194&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilaungu.wordpress.com/2009/07/22/menuju-senja-di-camp-vietnam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Virus Berada dalam Tubuhku</title>
		<link>http://nilaungu.wordpress.com/2009/06/24/virus-berada-dalam-tubuhku/</link>
		<comments>http://nilaungu.wordpress.com/2009/06/24/virus-berada-dalam-tubuhku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 11:12:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina widarsih</dc:creator>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[bengkak]]></category>
		<category><![CDATA[kaki linu]]></category>
		<category><![CDATA[ruam merah]]></category>
		<category><![CDATA[virus Coxakie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nilaungu.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Deman tubuhku makin meninggi saat aku sampai di rumah. Rasa ini seperti banyak hari yang telah berlalu di Batam dan Tanjung Pinang. Suhu tubuh meningkat menjelang senja, kaki yang makin nyeri, serta warna merah di kaki yang tidak juga berkurang malah seakan semakin memerah. Aku tidak mampu lagi berpura-pura kuat dan bertahan. Akhirnya aku merobohkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=184&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Deman tubuhku makin meninggi saat aku sampai di rumah. Rasa ini seperti banyak hari yang telah berlalu di Batam dan Tanjung Pinang. Suhu tubuh meningkat menjelang senja, kaki yang makin nyeri, serta warna merah di kaki yang tidak juga berkurang malah seakan semakin memerah. Aku tidak mampu lagi berpura-pura kuat dan bertahan. Akhirnya aku merobohkan diri di kamar dan tertidur (setelah sempat berangan akan memaksakan diri pergi periksa ke KUCALA malam itu juga).</p>
<p>Kuterbangun pukul 20.30an. Demam masih kurasakan mebuatku tidak nyaman, namun aku juga sudah tidak nyaman dengan baju yang belum kuganti seharian. Menjelang pukul 22.00 demamku mulai turun dan badanku menjadi dingin. Kondisi ini juga serupa dengan beberapa hari lalu setiap kali setelah demam menjelang maghrib, suhu tubuh akan turun setelah pukul 20.00 atau 21.00.</p>
<p>Melalui internet, aku browshing tentang jenis penyakit yang kualami dengan cara menuliskan gejala yang kurasakan. Tidak juga kutemukan jenis penyakit yang sama gejalanya dengan yang muncul pada diriku. Hingga kemudian, aku bertanya pada sebuah website yang dikelola oleh dokter-dokter dimana aku berharap mendapatkan jawaban penyakitku. Namun, hari demi hari tak juga kuperoleh jawaban dari mereka.</p>
<p>Diagnosa penyakit yang belum juga kuperoleh ketika aku memeriksakan di Batam membuatku semakin penasaran. Kaki linu, nyeri di otot yang terasa sampai ke tulang, ada bentol merah yang muncul semakin banyak serta sakit jika ditekan, plus bengkak di pergelangan kaki hingga membuat sepatu sandalku terasa sempit. Aku ngeri melihat kakiku sendiri. Diagnosa sementara, ada dua kemungkinan yaitu Cikungunya atau Asam Urat. Saat itu, dokter memberiku 3 macam obat yang masing-masing berfungsi menurunkan demam, mengurangi bengkak kaki, dan menghilangkan ruam merah. Namun nampaknya obat ini hanya mengobati sementara karena rasa sakitku belum juga hilang/ berkurang secara signifikan. Hal itu bisa dimaklumi karena memang belum mengobati penyakit yang sesungguhnya.</p>
<p>Pernah juga kucari tentang penyakit Cikungunya yang ditularkan nyamuk itu di internet, gejalanya sangat mirip seperti yang kualami namun tanpa ruam merah yang biasa dijumpai. Aku kembali bingung, sakit apakah aku sebenarnya???</p>
<p>Setiap pulang dari aktivitas training seharian, demamku akan kambuh dan kakiku sakit. Meski demikian aku tidak mungkin hanya duduk saja selama pelatihan, itu sama saja meninabobokkan peserta karena kebosanan mereka hanya melihatku duduk di belakang meja sambil membaca Power Point. Oleh karenanya, aku tetap membawa kakiku ini berjalan, menaiki tangga, berdiri lama, dan sedikit berlari jika diperlukan.</p>
<p>Akhirnya, Minggu tanggal 21 Juni aku pergi ke RS Panti Rapih untuk mencari jawaban atas kegelisahanku tentang sakit yang kuderita serta mendapatkan penyembuh. Kartu Rekam Medis (RM) yang kubuat di tahun 2003 telah kutemukan. Dengan berbekal kartu tersebut, aku langsung mendaftar untuk periksa ke dokter umum. Dapatlah aku nomor antrian 57 untuk ke dr. Asdi Yudiono. Wah, dokter laki-laki ini, batinku agak khawatir. Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengan dokter laki-laki. Perasaanku jadi agak tidak enak saja karena sudah cukup lama aku tidak datang ke rumah sakit dan bertemu dokter seserius ini.</p>
<p>Masuk ruang periksa, aku disambut oleh perawat yang langsung menanyaiku dengan gejala yang aku rasakan. Kemudian menuliskannya di lembar kertas rekam medis. Cara bertanyanya kurang sabar dan ingin segera mendapat jawaban pasti tanpa memberi banyak ruang untuk mengingat-ingat.  Aku sedikit terganggu dengan sikapnya, tapi ya sudahlah biar nanti aku akan banyak bertanya pada dokternya saja. Setelah itu ia mengukur tekanan darahku. Tidak ada komentar yang keluar, padahal aku menunggu ucapannya. Paling nggak mengatakan jika tekanan darahku sekian per sekian dan itu termasuk bla bla bla. Barulah aku disuruh bertemu dokter yang namanya tertulis dr. Asdi. Beliau berkulit sangat putih, tinggi sedang, tidak banyak menatap pasien. Hanya bertanya &#8220;Gimana?&#8221;, trus aku tunjukkan saja kakiku yang masih bengkak. Lalu dengan cepat dia menilai penyakitku.</p>
<p>&#8220;Ini virus Caxokie&#8221;, katanya mantap sambil menuliskannya dalam kertas putih yang biasa digunakan untuk menuliskan resep. Ia nampaknya melihat rasa penasaranku sehingga ia langsung menuliskan nama virus tersebut di kertas. Aku masih belum puas.</p>
<p>&#8220;Bedanya dengan virus Cikungunya apa dokter?&#8221;, tanyaku lebih jauh.</p>
<p>&#8220;Itu saudaranya,&#8221; jawabnya singkat. Aku agak tidak puas dengan jwaban itu sekaligus merasa direndahkan. Mengapa dia menjawab dengan jawaban demikian. Sepertinya sedang malas menerangkan, atau menganggapku tidak terlalu ingin tahu tentang penyakitku, dan semoga tidak menganggapku tidak cukup bisa memahami jika diterangkan secara ilmiah.Ia langsung menulis resep, lalu memintaku cek darah di laboratorium. Dua hari kemudian aku diminta kontrol dengannya Selasa jam 19.00 &#8211; 21.00.</p>
<p>Sampai depan laboratorium, aku mulai cemas. Aku meminta adik sepupuku untuk menemaniku saat darahku diambil. Ia coba menenangkanku dengan mengatakan jika diambil darahnya rasanya sama sekali tidak sakit. Dia tetap kuminta menemaniku sampai di kamar. Dan ternyata benar kok, tidak sakit, aku sama sekali tidak merasakan ketika darahku diambil, toh juga tidak banyak. Hasil pemeriksaan laboratorium baru akan selesai 3-4 jam setelahnya, sehingga aku tidak akan menunggunya.</p>
<p>Pulang dan minum obat lalu tidur. Bangun tidur aku masih merasakan demam seperti sebelumnya. Aku mulai panik lagi karena khawatir diagnosa salah dan obat tidak bekerja dengan baik. Malam hari kuminum lagi untuk kedua kalinya. Alhamdulillah, ketika bangun tidur suhu badanku turun dan tidak lagi kurasakan nyeri serta linu di kaki. Aku lega dan benar-benar bersyukur. Akhirnya&#8230;sakitku sembuh juga. Sudah ketemu obat yang tepat sekarang meskipun hasil pemeriksaan darah juga belum tahu. Setidaknya, aku sudah tidak merasakan sakit di pergelangan kaki yang sangat mengganggu untuk berjalan.</p>
<p>Selasa malam tiba waktunya aku mengambil hasil lab dan kontrol. Kubaca hasil lab, di sana tertulis HS-CRP 20.29 H. Dikatakan oleh dr. Asdi itu menunjukkan infeksi virus dalam darah cukup tinggi dan menyerang jaringan tulang. Wah, lumayan ngeri juga pikirku. Seandainya terlambat, mungkin sudah terjadi sesuatu pada tulangku.</p>
<p>Sakit kali ini memberiku pelajaran berharga bahwa sebisa mungkin jangan tunda untuk memeriksakan diri jika merasa ada yang tidak beres dalam tubuh kita. Tidak ada gunanya menganggap remeh penyakit apalagi jika keterlambatan ternyata berbanding terbalik dengan peluang ke arah kesembuhan. Dan yang pasti adalah nikmat sehat sangat berharga.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nilaungu.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nilaungu.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nilaungu.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nilaungu.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nilaungu.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nilaungu.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nilaungu.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nilaungu.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nilaungu.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nilaungu.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nilaungu.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nilaungu.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nilaungu.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nilaungu.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nilaungu.wordpress.com&amp;blog=4322302&amp;post=184&amp;subd=nilaungu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nilaungu.wordpress.com/2009/06/24/virus-berada-dalam-tubuhku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rina</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
