Mp3Raid music code

Posted in Uncategorized on November 28, 2009 by rina widarsih

Pesan untuk Pengantin

Posted in cerita harian with tags , on October 5, 2009 by rina widarsih

Kemarin, aku menghadiri walimahan teman yang mana dulu kita sempat menjadi teman kerja di kampus. Melalui perkenalan singkat 3 bulan, akhirnya ia memutuskan untuk menerima pinangan laki-laki yang direkomendasikan seseorang yang dipercaya. Acara diselenggarakan dengan sederhana namun tak mengurangi nuansa kebahagiaan dan syukur. Souvenir mungil diserahkan oleh si mbak yang berada di belakang meja buku tamu. Sepintas, aku melihat souvenir terbuat dari kain flannel berbentuk persegi berukuran mungil. Aku tidak tertarik untuk menelitinya lebih jauh ketika menerima, apalagi aku langsung larut dengan kegembiraan karena bisa mengucapkan selamat langsung kepada pengantin perempuan. Saat acara berlangsungpun, aku memanfaatkan hampir seluruh waktu untuk bertukar cerita dengan teman lama, sesama asisten di kampus dulu. Seperti biasa, jika menghadiri acara serupa, terasa sebagai reuni karena kita akan bertemu teman yang lama sudah tidak jumpa. Hingga acara berakhir dan aku pulang, aku belum menyempatkan membuka apa sesungguhnya souvenir dari Astuti.

Sampai di rumah, segera kukeluarkan seluruh isi tas untuk membersihkannya sebelum kusimpan kembali. Kutemukan sebentuk kain flannel kuning yang dibungkus pklastik bening. Tepian flannel dijahit dengan benang warna senada lalu diberi tali hitam. Pastilah handmade, diam-diam aku mengagumi ketelatenan Astuti yang mengejarkan semua souvenir untuk tamu-tamunya. Kuamati kembali, apa maksudnya ya. Emm..ya, mirip tas kecil, dan…wah ada isi di dalamnya. Secarik kertas kuambil dari sana, terlipat 4 kali dengan model wiru yang menghasilkan 5 part sehingga jika ditarik akan nampak jika kertas tersebut cukup panjang. Sebait tulisan yang pelan-pelan kubaca, berusaha kupahami artinya. Rupanya bait-bait tersebut berisi beberapa hadits, doa dan petikan ayat Al Quran. Salah satu hadits yang menarik yaitu,

“Takutlah engkau kepada Alloh SWT dalam urusan wanita. Sesungguhnya mereka adalah amanat di sisimu. Barang siapa tidak memerintahkan sholat dan mengajarkan sholat kepada istrinya, berarti ia berkhianat kepada Alloh SWT dan Rasul-Nya.”

Tertegun ketika selesai kubaca hadits yang ditulis pada urutan pertama pada secarik kertas tersebut. “Indah sekali”, kataku dalam hati. Kira-kira ada berapa suami (atau laki-laki) yang mengetahui dan memahami hadits ini ya, tanyaku kemudian. Ada beberapa poin yang ingin disampikan hadits ini sejauh pemahamanku (karena aku belum melihat lagi perawi serta asal usul bagaimana hadits ini muncul). Diantaranya adalah aspek perasaan berserah dalam kerendahan hati, edukasi dan tanggung jawab. Lalu pertanyaan berikutnya yang muncul adalah bagaimana jika Sang Suami belum memiliki cukup pengetahuan agama dibanding Sang Istri, misalnya suami adalah seorang mualaf lalu bagaimana hadits ini menjelaskannya ya?

Aku Jadi TKW

Posted in cerita harian with tags , on September 15, 2009 by rina widarsih

Kapal baru saja melabuh. Aku tak segera beranjak menggendhong ransel berat dan merangsek maju. Aku masih malas berdesakan, kubiarkan hampir seluruh penumpang maju menuju jalan keluar berlomba lebih dulu. Aku keluar kapal di urutan ketiga dari belakang.

Sedikit nampak kerepotan membawa bawaan, aku tetap berusaha membawanya sendirian toh salah satu tas bisa kutarik. Penumpang lain dari Tanjung Balai Karimun yang bersamaku dalam satu kapal membimbingku untuk berjalan melalui arah tertentu tanpa membuatku berpikir keras membaca tanda-tanda. Sampailah aku di ruangan lebar yang dari situ kita sudah dapat melihat banyaknya sopir TAXI yang berebut penumpang. Namun tak kulihat satupun yang mencoba masuk ke ruangan ini. Biasanya kulihat mereka proaktif menjemput penumpang, namun kali ini mengapa tidak. Mataku masih mencari laki-laki dengan tinggi badan sedang, agak botak dan biasanya nampak tersenyum dikulum. Dimanakah beliau, mengapa tak juga kutemukan? Kepergianku lalu, ia sudah menjemputku di dalam ruangan ini, sehingga aku tidak lagi kebingungan mencari. Tapi kali ini belum juga kulihat tanda-tanda kemiripan sekalipun dengan dirinya. Padahal, tadi di perjalanan sudah ku-sms untuk memintanya menjemputku di pelabuhan pada jam yang sudah kuperhitungkan.

Aku dari Balai, semua penumpang di pintu keluar pelabuhan ditanyain KTP. Trus, karena mesti nurunin tas punggung yg berat, petugas jadi nunggu. Aku keluarin KTP smapai pasport. Ketauan bukan orang Kep Riau. So, aku diminta ke bagian pendataan (Disduk) dan dimintai keterangan untuk keperluan apa datang ke Balai dan ke Batam. Kemana tujuanku juga. Ketika kusampaikan bahwa aku ada keperluan tugas dari kantor, justru kemudian aku ditanya surat tugas. alamat tujuan di Batam, bahkan surat tugas. Pyuh pyuh…baru kali ini ada pengawasan ketat setelah aku bolak-balik antar pulau beberapa kali. Aneh, apakah ini efek dari pengeboman yang terjadi di Jakarta 17 Juli kemarin? Ataukah wajahku ini nampak sebagai TKW yang baru pulang dari Malaysia? Kata temenku, wajahku yang sangat ‘Jawa’ dengan barang bawaan yang kutenteng membuat orang yang baru melihat, apalagi di Kep Riau yang memang menjadi jalur perlintasan (transit), dengan mudah menilaiku adalah TKW dari kampung. Kalau benar alasan itu berarti aku menjadi TKW dong. Namun meskipun tidak disangka demikian, aku pun sudah menjadi tenaga kerja wanita yang pergi jauh ke Kep Riau dari Jogja. Hahaha…ya pengalaman unik, yang kata temenku yang berusaha berpikir positif, mungkin petugasnya ingin tahu dan kenal aku lebih dalam sehinga ia memintaku lebih lama bersamanya. Apapun alasannya, yang pasti aku pernah merasakan ditanyai detail oleh Perdaduk. Aku harus menunjukkan KTP, lalu petugas akan menuliskan identitasku serta keperluanku datang ke Batam ke selembar kertas yang merupakan surat keterangan bukan penduduk Batam.

Keluar pelabuhan, aku masih merasa aneh hingga kuceritakan pengalamanku pada driver langgananku. Menurut beliau, mungkin karena aku terlihat bingung. Aku justru bingung, kapan ya aku merasa bingung. Aku coba mengingat. Aku tadi memang sempat mencari-cari keberadaan pak Tion di pelabuhan yang sudah kuminta jemput. Mungkin saat mataku mencari-cari itulah, petugas sekitar memahaminya bahwa aku orang yang baru saja datang ke Kep Riau, so aku harus diketahui dengan pasti identias serta tujuannya. Jadi pelajaran yang kuperoleh adalah sebaiknya tunjukkan sikap santai dan terlihat menguasai medan ketika kita datang ke tempat baru. Jika kita merasa bingung, langsung tanyakan kepada petugas resmi tanpa menunjukkan melalui ekspresi wajah sehingga bisa terlihat oleh orang lain.

Menuju Senja di Camp Vietnam

Posted in cerita harian with tags , on July 22, 2009 by rina widarsih

Kira-kira setengah dua siang kami (aku dan pak Tion) memacu Pinki TAXI ke arah Barelang. Barelang adalah jembatan yang menghubungkan antara Pulau Batam dengan pulau lain yang masih termasuk wilayah Batam. Tujuan akhir kami adalah Camp Vietnam yang berada di hampir ujung jembatan. Untuk bisa sampai ke sana, kami akan melewati sekitar 4 jembatan penghubung antar pulau.

Menuju Batu Aji, perumahan mulai sedikit dan batuan lebih dominan terlihat. Semakin jarang masyarakat yang tinggal jauh dari kota. Lalu kami sampai di jembatan penghubung yang menjadi icon kota Batam yaitu biasa disebut jembatan Barelang. Arsitektur jembatan mengingatkanku dengan jembatan yang berada di atas sungai Chao Praya di Bangkok, terdiri dari batangan-batangan beton yang kokoh yang menyatu di dua puncak, membentuk seperti prisma. Sulur yang simetris dan menyerupai segitiga bertumpuk, nampak indah meski kaku. Laut menghampar di bawah jembatan serta beberapa perahu yang lewat menjadi pemandangan yang tidak melelahkan mata ketika kita berdiri di atas jembatan yang membentang. Cahaya jingga dari matahari senja mempercantik nuansa karena memantul di air.

Untuk sampai di Camp Vietnam, butuh waktu sekitar satu jam perjalanan dari Sekupang. Camp ini dulu ditinggali oleh warga Vietnam yang terdampar sampai ke Indonesia karena mereka lari dari negaranya yang tengah berperang. Ada ratusan warga yang hidup berbulan-bulan dalam perahu hingga sampai Batam dan kemudian diberi kesempatan pemerintah Indonesia untuk tinggal di wilayah NKRI. Datang tahun 1971, mereka hidup bermasyarakat, berkembang biak, dan menghabiskan sisa hidup di Pulau Galang dan pulau yang lain. Mereka akhirnya diminta pulang oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1996. Kepergian mereka meninggalkan banyak bangunan fisik yang hingga sekarang sebagian masih nampak meski tinggal beberapa dan dalam kondisi yang tidak terawat. Mereka membangun rumah sakit, pusat berkumpulnya muda-mudi berkegiatan, tempat ibadah, dan tempat-tempat lain yang aku sendiri kurang paham apa fungsinya karena bangunan sudah tidak utuh. Karena lamanya mereka berada di Indonesia, maka ada sedikitnya 503 orang yang meninggal di Indonesia dan dimakamkan di dekat gapura pintu masuk wilayah Camp.

Aku sempat singgah di bangunan yang difungsikan sebagai museum oleh pemerintah kota Batam. Bangunan ini berfungsi untuk menyimpan sebagian dari barang-barang peninggalan mereka yang masih tersisa, seperti komputer rusak, motor roda dua tua, alat pertanian. Ada juga hasil karya tangan-tangan terampil mereka yang terpajang di ruang seperti museum tersebut. Selain itu kita juga dapat melihat ratusan foto-foto mereka yang tertempel rapi di salah satu bagian dinding museum.

Kunjungan yang menarik dan membuatku terkesan. Kenapa aku tidak kemari sejak dulu ketika masih di awal programku di Kepulauan Riau. Ketika aku tidak menemukan kebahagiaan melintas di antara kotak-kotak ruangan penuh baju di Mall, tempat bersejarah inilah yang kubutuhkan. HP dengan fasilitas kamera sangat sederhana, cukuplah membantuku mendokumentasikan beberapa tilas fisik. Bagian pulau Galang telah menjadi saksi bisu kenangan bersejarah saudara kita yang sempat singgah hidup di negeri Indonesia.

Ketika Virus Berada dalam Tubuhku

Posted in kesehatan with tags , , , on June 24, 2009 by rina widarsih

Deman tubuhku makin meninggi saat aku sampai di rumah. Rasa ini seperti banyak hari yang telah berlalu di Batam dan Tanjung Pinang. Suhu tubuh meningkat menjelang senja, kaki yang makin nyeri, serta warna merah di kaki yang tidak juga berkurang malah seakan semakin memerah. Aku tidak mampu lagi berpura-pura kuat dan bertahan. Akhirnya aku merobohkan diri di kamar dan tertidur (setelah sempat berangan akan memaksakan diri pergi periksa ke KUCALA malam itu juga).

Kuterbangun pukul 20.30an. Demam masih kurasakan mebuatku tidak nyaman, namun aku juga sudah tidak nyaman dengan baju yang belum kuganti seharian. Menjelang pukul 22.00 demamku mulai turun dan badanku menjadi dingin. Kondisi ini juga serupa dengan beberapa hari lalu setiap kali setelah demam menjelang maghrib, suhu tubuh akan turun setelah pukul 20.00 atau 21.00.

Melalui internet, aku browshing tentang jenis penyakit yang kualami dengan cara menuliskan gejala yang kurasakan. Tidak juga kutemukan jenis penyakit yang sama gejalanya dengan yang muncul pada diriku. Hingga kemudian, aku bertanya pada sebuah website yang dikelola oleh dokter-dokter dimana aku berharap mendapatkan jawaban penyakitku. Namun, hari demi hari tak juga kuperoleh jawaban dari mereka.

Diagnosa penyakit yang belum juga kuperoleh ketika aku memeriksakan di Batam membuatku semakin penasaran. Kaki linu, nyeri di otot yang terasa sampai ke tulang, ada bentol merah yang muncul semakin banyak serta sakit jika ditekan, plus bengkak di pergelangan kaki hingga membuat sepatu sandalku terasa sempit. Aku ngeri melihat kakiku sendiri. Diagnosa sementara, ada dua kemungkinan yaitu Cikungunya atau Asam Urat. Saat itu, dokter memberiku 3 macam obat yang masing-masing berfungsi menurunkan demam, mengurangi bengkak kaki, dan menghilangkan ruam merah. Namun nampaknya obat ini hanya mengobati sementara karena rasa sakitku belum juga hilang/ berkurang secara signifikan. Hal itu bisa dimaklumi karena memang belum mengobati penyakit yang sesungguhnya.

Pernah juga kucari tentang penyakit Cikungunya yang ditularkan nyamuk itu di internet, gejalanya sangat mirip seperti yang kualami namun tanpa ruam merah yang biasa dijumpai. Aku kembali bingung, sakit apakah aku sebenarnya???

Setiap pulang dari aktivitas training seharian, demamku akan kambuh dan kakiku sakit. Meski demikian aku tidak mungkin hanya duduk saja selama pelatihan, itu sama saja meninabobokkan peserta karena kebosanan mereka hanya melihatku duduk di belakang meja sambil membaca Power Point. Oleh karenanya, aku tetap membawa kakiku ini berjalan, menaiki tangga, berdiri lama, dan sedikit berlari jika diperlukan.

Akhirnya, Minggu tanggal 21 Juni aku pergi ke RS Panti Rapih untuk mencari jawaban atas kegelisahanku tentang sakit yang kuderita serta mendapatkan penyembuh. Kartu Rekam Medis (RM) yang kubuat di tahun 2003 telah kutemukan. Dengan berbekal kartu tersebut, aku langsung mendaftar untuk periksa ke dokter umum. Dapatlah aku nomor antrian 57 untuk ke dr. Asdi Yudiono. Wah, dokter laki-laki ini, batinku agak khawatir. Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengan dokter laki-laki. Perasaanku jadi agak tidak enak saja karena sudah cukup lama aku tidak datang ke rumah sakit dan bertemu dokter seserius ini.

Masuk ruang periksa, aku disambut oleh perawat yang langsung menanyaiku dengan gejala yang aku rasakan. Kemudian menuliskannya di lembar kertas rekam medis. Cara bertanyanya kurang sabar dan ingin segera mendapat jawaban pasti tanpa memberi banyak ruang untuk mengingat-ingat.  Aku sedikit terganggu dengan sikapnya, tapi ya sudahlah biar nanti aku akan banyak bertanya pada dokternya saja. Setelah itu ia mengukur tekanan darahku. Tidak ada komentar yang keluar, padahal aku menunggu ucapannya. Paling nggak mengatakan jika tekanan darahku sekian per sekian dan itu termasuk bla bla bla. Barulah aku disuruh bertemu dokter yang namanya tertulis dr. Asdi. Beliau berkulit sangat putih, tinggi sedang, tidak banyak menatap pasien. Hanya bertanya “Gimana?”, trus aku tunjukkan saja kakiku yang masih bengkak. Lalu dengan cepat dia menilai penyakitku.

“Ini virus Caxokie”, katanya mantap sambil menuliskannya dalam kertas putih yang biasa digunakan untuk menuliskan resep. Ia nampaknya melihat rasa penasaranku sehingga ia langsung menuliskan nama virus tersebut di kertas. Aku masih belum puas.

“Bedanya dengan virus Cikungunya apa dokter?”, tanyaku lebih jauh.

“Itu saudaranya,” jawabnya singkat. Aku agak tidak puas dengan jwaban itu sekaligus merasa direndahkan. Mengapa dia menjawab dengan jawaban demikian. Sepertinya sedang malas menerangkan, atau menganggapku tidak terlalu ingin tahu tentang penyakitku, dan semoga tidak menganggapku tidak cukup bisa memahami jika diterangkan secara ilmiah.Ia langsung menulis resep, lalu memintaku cek darah di laboratorium. Dua hari kemudian aku diminta kontrol dengannya Selasa jam 19.00 – 21.00.

Sampai depan laboratorium, aku mulai cemas. Aku meminta adik sepupuku untuk menemaniku saat darahku diambil. Ia coba menenangkanku dengan mengatakan jika diambil darahnya rasanya sama sekali tidak sakit. Dia tetap kuminta menemaniku sampai di kamar. Dan ternyata benar kok, tidak sakit, aku sama sekali tidak merasakan ketika darahku diambil, toh juga tidak banyak. Hasil pemeriksaan laboratorium baru akan selesai 3-4 jam setelahnya, sehingga aku tidak akan menunggunya.

Pulang dan minum obat lalu tidur. Bangun tidur aku masih merasakan demam seperti sebelumnya. Aku mulai panik lagi karena khawatir diagnosa salah dan obat tidak bekerja dengan baik. Malam hari kuminum lagi untuk kedua kalinya. Alhamdulillah, ketika bangun tidur suhu badanku turun dan tidak lagi kurasakan nyeri serta linu di kaki. Aku lega dan benar-benar bersyukur. Akhirnya…sakitku sembuh juga. Sudah ketemu obat yang tepat sekarang meskipun hasil pemeriksaan darah juga belum tahu. Setidaknya, aku sudah tidak merasakan sakit di pergelangan kaki yang sangat mengganggu untuk berjalan.

Selasa malam tiba waktunya aku mengambil hasil lab dan kontrol. Kubaca hasil lab, di sana tertulis HS-CRP 20.29 H. Dikatakan oleh dr. Asdi itu menunjukkan infeksi virus dalam darah cukup tinggi dan menyerang jaringan tulang. Wah, lumayan ngeri juga pikirku. Seandainya terlambat, mungkin sudah terjadi sesuatu pada tulangku.

Sakit kali ini memberiku pelajaran berharga bahwa sebisa mungkin jangan tunda untuk memeriksakan diri jika merasa ada yang tidak beres dalam tubuh kita. Tidak ada gunanya menganggap remeh penyakit apalagi jika keterlambatan ternyata berbanding terbalik dengan peluang ke arah kesembuhan. Dan yang pasti adalah nikmat sehat sangat berharga.

Surat Terbuka

Posted in cerita harian with tags , , on June 20, 2009 by rina widarsih

Hari ini sudah tiba saatnya aku harus meninggalkan Batam dan wilayah lain di Kepulauan Riau untuk keperluan technical assistance. Hampir dua minggu aku di Kep Riau terasa tidak lama juga. Makin lama aku mulai terbiasa jauh dari rumah, tidak ngobrol dengan ibu, dan tertawa ngakak dengan teman-teman DP. Minggu pertamaku di Batam kulalui dengan lumayan sulit. Aku masih kangen rumah, merasa sendirian, sepi, apalagi kalau tubuh sedang terasa tidak enak, maka terasa makin lengkaplah sudah rasa nelongso. Alhamdulillah, kebaikan hati, ketulusan, dan keramahan teman-teman di sinilah yang membuatku lebih nyaman dan serasa di rumah sendiri. Aku jadi mempunyai teman dan saudara baru.

Terima kasih untuk waktu dan perhatian mas Irwan serta teman-teman SETARA KITA. Ada mas Irwan yang siap menjemput dan mengantarku ke tempat yang menjadi tujuanku. Ketika aku sakit, mas Irwan yang membawaku ke dr. Sebha bahkan dia juga ikut penasaran sakit apa yang sesungguhnya kuderita. Semua teman doktenya ditelpon untuk bisa kuajak bicara tentang ketidaknyamanan yang kurasakan. Makan malamku juga tidak lagi selalu sendirian karena ada mas Irwan dan beberapa teman SETARA KITA yang menemani makan sambil mengobrol. Weekend juga tidak membosankan karena aku diajak nonton film Pertaruhan di bioskop 21 yang berada di Batam Center. Menemani jalan-jalan ke Barelang juga siap teman-teman lakukan namun sayang kondisi kesehatanaku tidak memungkinkan.

Rasa haru menghingggapi ketika ada kenang-kenangan dari peserta pelatihan untukku. Hatur terima kasihku kepada Bu Shal atas sepatu cantiknya yang diberikan kepadaku sebagai tanda cinta. Kasih sayang Tuhan juga ditunjukkan padaku melalui pertemuanku dengan mas Iwan yang kuketahui bahwa dia adalah kakak angkatanku satu fakultas di FPsi. Aku juga berkesempatan berkenalan dengan Nyoman yang selalu segar dengan kelucuannya. Bu Norma yang mengabdikan diri dengan dedikasi di shelter, serta mas Riyan yang sabar menghadapi klien-klien.

Rasa terima kasihku juga buat Bu Lilis di Shelter Tepak Sirih yang telah membantu koordiansi acara dan telah menjadi teman berbagi. Mus, kamu teman yang tulus dan spontan. Akan kutunggu paket dari Tanjung Pinang yang berisi dirimu hehehe. Ardiles yang selalu bersemangat dan memiliki banyak ide, aku masih akan menagih janjimu mengajak hang out ke dekat laut :-D . Trus untuk Tomi, kamu suka memberikan kejutan saat berkendara ya, hati-hati saja. Buat Bunda dan mbak Cici, terima kasih untuk kehangatan sikap dan antusiasme ketika mengikuti pelatihan. Bunda juga yang telah membagi resep bagaimana mengolah cumi agar enak. Teruntuk teman-teman relawan KUBE, semangat kalian pastilah akan menjadi bahan bakar kerja-kerja yang telah menunggu di komunitas. Applouse buat kalian yang selalu datang paling awal pada saat pelatihan. Dan, untuk Pak Mukhtar, terima kasih telah mau mendengar berbagai hal baru yang saya hembuskan. Tak apa jika masih perlu banyak waktu untuk mengendapkan dan menerimanya.

Aan, karena dirimu aku tidak makan malam sendirian. Selain itu makan duren menjadi lebih seru ya ternyata kalau ada temennya. Buat mbak Shofi, terima kasih telah mengajariku kegigihan dan ketangguhan seorang pemimpin perempuan. Aku yakin, dirimu mampu meraih mimpimu mbak.

Dan satu lagi, untuk Pak Tion yang siap menjemput, mengantar, dan mencariku ketika aku tersesat, hanya terima kasih yang bisa saya berikan sebagai bonus buat bapak. Istri dan anak-anak pastilah sangat menyayangi bapak karena ketekunan dan kerja keras yang bapak jalani.

Pulang ke Jogja, tidak hanya oleh-oleh dan titipan yang kubawa serta, ada banyak kenangan manis yang akan selalu ada dalam ingatan. Oleh karenanya aku merasa wajib membelikan titipan mas Roni berupa tas karena aku juga butuh itu untuk membawa barang-barangku.

Dibandingkan dengan kepergianku ke Kep Riau sebelumnya, aku kurang bisa jalan-jalan atau hang out keluar di luar jam kerja. Sakit dan sibuk memikirkan keperluan pelatihan sendirian membuat beberapa agenda gagal dilakukan. Termasuk pergi ke jembatan Barelang yang menjadi icon-nya kota Batam. Baru nanti siang, ketika mau ke bandara, kurencanakan akan mampir sebentar ke jembatan. Semoga gak garing saja, karena aku ke sana cuma dengan pak Tion yang senantiasa siap mengantar dengan Pinki TAXInya.

Jika nanti rangkaian kegiatan dari proyek ini selesai, pastilah aku akan merindukan Batam, Karimun, dan Tanjung Pinang. Seperti kata mas Eko yang dengan berat hati mengatakan jika kali ini adalah kegiatan terkahirnya di Kep Riau dan dia terkesan dengan Kep Riau. Meski kami hanya bertemu dan mengobrol 2 menit, aku merasa berkawan. Perasaan ini muncul mungkin karena kami sama-sama dari Jogja yang justru bertemu di Tanjung Pinang. Mobilitas yang tinggi karena pekerjaan sangat mungkin menjadikan kondisi seperti itu.

Aku yang semakin menikmati kesibukan dan kesendirian hanya berharap aku akan tetap jalani ini dengan bahagia sepenuh hati. Pelajaran berharga untuk membuatku lebih baik nampaknya sudah direncanakan Alloh untukku melalui semua tahapan ini. Ketika aku bisa berharap dan berdoa, malaikat akan membawa doaku dan membantu merayu Tuhan untuk mengabulkan doaku.

Ibu, bapak, adik, dan Ita di rumah. Aku pulang sore ini. Aku rindu rumah, rindu kamarku, dan tentu saja kalian. Tiga belas hari aku tidak berjumpa, ada banyak peristiwa unik yang pastinya aku lewatkan dan hanya bisa kudengar ceritanya dari telepon genggam. Jemput aku adikku, aku bawakan sekantung senyuman untuk membuatmu termotivasi segera menyelesaikan TA-mu. Mengertilah, ada banyak sekali pengorbanan untuk membuat kita berkesempatan duduk di bangku Gadjah Mada. Oleh karena itu, buatlah orang tua kita tersenyum bangga duduk di Grha Sabha melihatmu maju ke depan untuk menerima tanda kelulusan. Aku sudah 2 kali melakukannya, akankah menunggu hingga aku harus pergi untuk kuliah lagi pada jenjang berikutnya? Kuharap tidak. Mereka menunggu kita untuk memasuki tahapan yang menurut mereka sudah saatnya kita menapakinya.

Mimpi yang SEMPAT Terlupa

Posted in diriku, refleksi with tags , , on May 4, 2009 by rina widarsih

Pulang dari bekerja selama 2 minggu di luar kota membuatku harus menyelesaikan banyak hal sebagai bentuk tanggung jawab seperti laporan untuk lembaga. Kembali kepada rutinitas di kantor sekaligus juga mengingatkanku pada agendaku untuk memacu skor TOEFL. Ya, selama 2 minggu ini tidak ada waktu untuk mengingat belajar persiapan tes TOEFL apalagi membuka bukunya yang sudah kubeli sebelum aku berangkat. Aku juga merasakan semakin lemahnya semangat dalam diriku untuk disiplin belajar agar lebih siap menghadapi tes agar hasil maksimal. Syarat skor minimal untuk mendaftar Fullbright adalah 500, sedangkan skor yang kumiliki masih jauh.

Aku merasa semakin tenggelam dalam tugas-tugas kerja dan semakin sulit fokus pada usaha memperebutkan beasiswa. Tidak ada lagi teman untuk bersaing, tidak ada lagi teman untuk saling berbagi cerita memburu kesempatan S2 ke luar negeri, dan tidak adanya teman yang memotivasiku untuk senantiasa bersemangat berjuang meski tidak hanya sekali gagal.

Aku khawatir kondisi ini akan semakin memburuk jika tidak segera kuatasi. Aku sadar, aku harus segera menemukan komunitas yang mampu menularkan semangat perjuangan untuk meraih kesempatan impian. Mimpi tidak bermanfaat jika hanya pernah ditulis tanpa mampu menggerakkan kita untuk melangkah menujunya. Aku masih punya mimpi. Dan, tidak akan kubiarkan hanya menjadi tulisan dalam kenangan karena tidak pernah ada upaya mencapainya. Tuhan, bantu aku agar ringan melangkahkan kaki untuk bergerak mendekati mimpi.

Pelajaran Berharga dari Tanjung Pinang

Posted in cerita harian with tags on April 24, 2009 by rina widarsih

Hari ini adalah workshop hari kedua di Tanjung Pinang yang akan lebih menekankan pada pembuatan mekanisme rujukan dalam penanganan kasus. Aku tidak tahu akan seperti apa diskusi hari ini. Diskusi kemarin tentang pemetaan berbagai masalah yang terjadi memaparkan banyaknya permasalahan dalam koordinasi antar lembaga layanan di Tanjung Pinang. Ada banyak ketidakpuasan terlihat dari cara mereka mengungkapkan pendapat. Meskipun mereka berusaha berdalih bahwa mereka sedang memberikan masukan, namun aku merasakan ada teriakan protes yang tersirat dalam pilihan kata dan nada bicara ketika menyampaikan opini. Kurasa benar kata mas Roni, mereka masih kekurangan media untuk menyampaikan aspirasi. Hal ini tidak hanya terjadi pada teman-teman LSM namun juga dari pihak pemerintah. Ketika teman-teman LSM ingin menyuarakan sesuatu, tidak ada ruang yang tersedia bagi mereka agar dapat didengar. Demikian juga pemerintah yang ingin banyak berperan namun belum tahu bagaimana strateginya dan di mana harus masuk ke dalam rangkaian penanganan. Acara kemarin dan hari ini merupakan kesempatan mereka untuk saling menyampaikan kesulitan dan tantangan. Harapanku, mereka nantinya yang datang ke acara hari ini sudah cukup berkepala dingin sehingga dapat mengendalikan emosi dan hanya berpikir untuk pencapaian pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.

Roti Canai dan Teh Tarik

Posted in cerita harian with tags , on April 22, 2009 by rina widarsih

Hari keduaku di Karimun, kami diajak mampir ke rumah mas Agung yang tinggal di perumahan da di Kepan BTN. Awalnya dia iseng menawarkan agar kami mencuci baju di rumahnya saja karena ada mesin cuci. Maklum, perbekalan baju bersih yang semakin menipis membuatku serius untuk segera menemukan tempat laundry agar aku bisa mendapatkan bajuku bersih kembali. Sudah kuhitung, persediaan bajuku akan cukup untuk selama acara di Karimun sampai dengan Kamis tanggal 23 April 2009.

Setelah mengambil baju kotor di kamar hotel, kami mampir membeli buah dahulu sebelum menuju rumah mas Agung. Aku sangat kaget ketika membeli jeruk di Karimun itu per biji. Jeruk jenis Sunkist harganya Rp 3.000,00 per buah. Dan satu buah Peer seharga Rp 6.000,00. Wah luar biasa mahal rupanya buah-buahan di sini.

Sampai di rumah mas Agung, kami dijamu dengan makanan lodeh jipang dan lauk goreng tempe. Terasa enak karena sudah sekian hari (hampir seminggu) kami sulit menemukan sayur. Kami selama di Batam dan Karimun selalu makan makanan tanpa sayur, apalagi lodeh, sayur cah saja sulit kami dapatkan. Setelah itu, barulah kami cuci pakaian dengan terlebih dahulu mengangkut air dari kamar mandi karena air mati. Memang demikianlah di perumahan di mana mas Agung tinggal. Secara bergiliran air pam mati, baru malam akan hidup lagi.

Senang rasanya, kami dianggap seperti keluarga sendiri di rumah mas Agung. Mereka menyambut kami sangat ramah seperti ingin memperlakukan dengan sebaik-baik perlakuan karena merasa kamilah tamu di Karimun. Aku bersyukur memiliki teman seperti mas Agung dan istrinya. Keakraban yang terbangun membuatku merasa tidak sendiri di wilayah yang baru pertama kali aku singgahi. Sorenya, kami diajak makan ke sebuah warung yang menyediakan makanan khas Melayu yaitu Roti Canai dan Teh Tarik. Aku penasaran ingin merasakannya karena selama ini aku hanya melihat di televisi bagaimana pembuatan teh tarik itu. Dari yang kuketahui, Teh ini dibuat dengan cara dituang berulang-ulang sehingga seperti gerakan menarik untuk mencampur antara teh dengan krim. Sehingga, hasilnya teh akan tercampur sempurna dengan krim dan di permukann atasnya berbusa.

Mbak Eka, istri mas Agung, memesankan untuk kami masing-masing 2 Roti Canai dengan rincian 1 kosong, dan 1 dengan telur. Setelah menunggu kira-kira 20 menit sambil ngobrol dan bercanda, pesanan kami datang. Menu yang terhidang adalah 2 lembar adonan seperti telur dadar, ada kuah kare,  dan sambal. Minuman yang disebut teh tarik adalah air dengan warna seperti susu cokelat dengan busa di atasnya seperti akibat minuman yang dikocok.

Aku coba cicipi minumannya. Tidak lagi terasa teh-nya, yang terasa adalah krim gurih, manis, dan sedikit aroma teh. Kondisi hangat juga membuat minuman ini tambah nikmat. Aku coba memotong Rotinya. Emm, rasanya seperti terigu yang digoreng. Lapis atas ternyata yang dinamakan kosong, jadi tanpa campuran apapun, hanya adonan terigu digoreng. Lalu kulihat lapisan roti di bawahnya, ada rupa telur di situ. Nah, berarti ini roti yang dicampur telur. Aku cicipi, hambar juga. Makanan yang aneh, pikirku. ternyata kuah kare yang disediakan bukan tanpa maksud. Kuah ini dimaksudkan untuk mencocolkan roti yang sudah kita cuil-cuil. Nikmatnya kalau makan roti canai dan kuah pakai tangan. Tapi sayang, aku tidak terlalu suka rasa kare, jadi aku lebih suka mencocolkan roti ke sambal saja, sudah cukup nikmat kok, tidak terasa hambar.

Mereka berdua merekomendasikan kami untuk mencoba beberapa menu lain khas Melayu (Karimun) di hari lain. Aku tertarik, tapi tidak yakin jika aku mampu mencoba karena keterbatasan waktu berada di Karimun. Ada air Jigong, ini salah satu nama minuman yang unik dan belum kucoba sampai sekarang.

Nagoya, kau membuatku jatuh hati

Posted in cerita harian with tags , , on April 15, 2009 by rina widarsih

Turun dari angkot yang membawaku ke Nagoya Hill, kami hendak menyeberang jalan yang ramai dilalui mobil. Melalui zebra cross, agak ragu kami melangkahkan kaki untuk memotong arus lalu lintas yang ramai dan padat. Ketika arus sedikit lengang, kami memberanikan diri melangkahkan kaki menapaki cat yang membentuk garis putih melintang. Mobil dengan kecepatan tinggi nampak dari arah kananku. Aku sudah bersiap menghentikan langkah karena aku sebaiknya mengalah saja jika dengan mobil, demikian pikirku. Namun, aku melihat jika mobil yang tadinya melaju dengan kecepatan tinggi berangsur melambat dan berhenti pada jarak kira-kira 50 cm dari garis tepi zebra cross. Aku takjub, dan bertanya pada diriku “Aku masih di Indonesia kan?”.

Dua jam pertama berada di daerah yang namanya mirip dengan kota di Jepang, sudah ada hal yang membuatku terkesan. Lalu lintas padat tidak membuat kami kesulitan menyeberang jalan di Nagoya. Sampai-sampai aku tidak percaya bahwa aku masih di Indonesia. Jakarta yang sangat hiruk-pikuk membuat kita takut melintas di jalan. Bahkan, di Yogyakarta-pun seringkali aku kesulitan menyeberang karena sebagian besar pengguna jalan ingin segera sampai ke tujuan masing-masing. Pejalan kaki harus mengalah dengan pengguna kendaraan.

Andai pengendara di semua wilayah di kota besar di Indonesia seperti di Nagoya, akan terasa nyaman bagi pejalan kaki. Sopan santun berlalu lintas bisa terlihat jelas di Nagoya. Ayo dong, kota lain tirulah Nagoya.